V News

Aktivis Nilai Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon Sebagai Bentuk Upaya Melindungi Kejahatan Masa Lalu

219
×

Aktivis Nilai Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon Sebagai Bentuk Upaya Melindungi Kejahatan Masa Lalu

Sebarkan artikel ini
Direktur Executive Migrant Watch Aznil Tan.

Venomena.id – Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadil Zon yang menyebut tidak ada bukti pemerkosaan massal dalam Tragedi Mei 1998 mendapat sorotan tajam sejumlah aktivis pergerakan.

Ex aktivis 98, Aznil Tan, menilai bahwa pernyataan tersebut adalah bagian dari proyek sistematis pengaburan sejarah reformasi demi melindungi kepentingan kekuasaan hari ini.

“Pengaburan terhadap tragedi reformasi 1998 terjadi karena apabila peristiwa itu diungkap secara jujur dan terang-benderang, maka akan membongkar kejahatan masa lalu yang terkait erat dengan para penguasa hari ini,” tegas Aznil Tan.

Baja juga:  Suara Muda Indonesia, Gebrakan Prabowo Gibran Bagi Anak Muda

Ia menyebut bahwa sejarah reformasi bukan hanya tentang jatuhnya Soeharto, tetapi juga tentang darah rakyat, luka para ibu, trauma perempuan korban kekerasan seksual, dan perjuangan mahasiswa yang menuntut keadilan. Menghapus atau menyangkal bagian gelap dari tragedi itu, menurut Aznil, adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi itu sendiri.

“Kekuasaan hari ini adalah warisan politik dari Orde Baru. Banyak aktor di lingkaran kekuasaan saat ini memiliki jejak langsung maupun tidak langsung dengan kekuasaan yang dulu menindas rakyatnya. Maka tidak mengherankan jika ada upaya menulis ulang sejarah agar luka lama tidak menuntut keadilan,” ungkapnya.

Baja juga:  Usai Tulis Sosok Gibran, Penggagas PeopleVoice Lawan Politik Dinasti Mendapat Teror

Aznil menyerukan kepada publik, terutama generasi muda, agar tidak menerima narasi tunggal versi negara. Ia menegaskan pentingnya mendengar suara para penyintas (selamat dari pengalaman buruk, traumatis, atau kekerasan- red), mencatat kesaksian saksi sejarah, dan menolak pembungkaman atas kebenaran yang menyakitkan.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan masa lalunya, tapi bangsa yang berani menghadapinya. Kita tidak butuh sejarah yang nyaman, tapi sejarah yang jujur,” pungkas Aznil Tan.

(rdk/rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *