V News

Wabah Mematikan PPR Mengancam dari Semenanjung, Karantina Ingatkan Jalur Gelap Masuk Ternak

45
×

Wabah Mematikan PPR Mengancam dari Semenanjung, Karantina Ingatkan Jalur Gelap Masuk Ternak

Sebarkan artikel ini
Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, ingatkan wabah ganas PPR pada ternak, Kamis (15/1)

Venomena.id – Ancaman wabah Peste des Petits Ruminants (PPR), penyakit virus ganas yang dapat mematikan kambing dan domba hingga 100 persen, kian mendekati Indonesia. Setelah merebak di sejumlah negara Afrika, virus ini kini bergerak cepat ke Asia Tenggara, dengan Thailand dan Vietnam telah lebih dulu terjangkit.

Peringatan keras itu disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manaor Panggabean, dalam jumpa pers di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, Kamis (15/1), di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

“PPR ini bukan isu biasa. Dari peta sebaran global terlihat jelas pergerakannya dari Afrika menuju Asia. Thailand dan Vietnam sudah masuk. Secara geografis, dari semenanjung ke Indonesia itu tinggal menunggu waktu kalau kita lengah,” kata Sahat di hadapan awak media.

Ia menegaskan, meski PPR tidak menular ke manusia (non-zoonosis), dampaknya terhadap sektor peternakan bisa sangat menghancurkan. Indonesia, kata dia, belum memiliki vaksin PPR, sehingga jika wabah sampai masuk, potensi kerugian akan jauh lebih besar dibanding penyakit ternak sebelumnya.

Belajar dari pengalaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyebabkan kerugian hingga Rp40 triliun, Sahat meminta semua pihak tidak menganggap enteng ancaman PPR.

“Kami minta bantuan media untuk menyampaikan ini ke masyarakat. Jangan sampai terulang lagi seperti PMK dan ASF, ketika kita sudah kewalahan, baru semua panik,” ujarnya.

Baja juga:  Pemkot Bekasi Diminta Kaji Ulang Proyek Pipa PDAM Gunakan Air Kalimalang, Pengamat:  Diduga Hanya Pemborosan Anggaran, Padahal Jalur Alternatif Sudah Tersedia

Jalur Gelap Jadi Ancaman Serius

Kepala Badan Karantina menyoroti jalur ilegal pemasukan ternak dan daging sebagai titik rawan penyebaran. Wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Riau disebut berpotensi menjadi pintu masuk jika pengawasan melemah.

“Masyarakat yang biasa bergerak dari semenanjung ke Indonesia, kami mohon jangan membawa ternak hidup atau daging. Jangan jadi penyebar. Ini sering masuk lewat jalur laut, pakai kapal-kapal kecil,” tegasnya.

Ia mengaku telah menginstruksikan seluruh jajaran karantina di Indonesia untuk memperketat pengawasan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi terkait.

“Ini bukan kerja karantina saja. Semua harus bergerak. Saya sudah sampaikan dalam Rakernas agar seluruh petugas siaga penuh,” katanya.

Peternak Diminta Waspada Iming-iming Bibit

Sahat juga mengingatkan peternak agar tidak mudah tergiur tawaran bibit ternak dari luar negeri dengan dalih kualitas unggul.

“Biasanya penyakit masuk bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaktahuan. Peternak kecil yang paling terdampak nanti,” ujarnya.

Ia menegaskan, hingga kini Indonesia masih berstatus bebas PPR, berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Indonesia Nomor 2664 Tahun 2025. Seluruh uji PCR dan isolasi virus sebelumnya menunjukkan hasil negatif.

Baja juga:  Gawat Diduga Habis Santab Makanan Katering Acara Aqiqah, Puluhan Warga Kab Bekasi Keracunan

Namun status bebas itu, menurut Sahat, hanya bisa dipertahankan jika disiplin bersama dijalankan, mulai dari masyarakat hingga aparat.

Virus Ganas, Dampak Ekonomi Besar

PPR merupakan penyakit virus yang sangat menular, disebabkan Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae, dengan tingkat morbiditas mencapai 90–100 persen dan mortalitas bisa hingga 100 persen, terutama pada sistem peternakan tradisional.

Gejala klinis meliputi demam tinggi, luka di rongga mulut, gangguan pernapasan, diare, hingga kematian massal. Secara global, penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi sekitar USD 2,1 miliar per tahun, menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH).

Meski vaksin PPR telah tersedia dan efektif untuk semua lineage virus, Indonesia belum menggunakannya karena belum terdampak.

“Kita berharap virus ini tidak masuk, supaya kita tidak perlu impor vaksin. Pencegahan jauh lebih murah daripada penanggulangan,” kata Sahat.

Benteng Terakhir Bernama Kesadaran

Badan Karantina Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat deteksi dini, pelarangan impor dari negara wabah, peningkatan kapasitas laboratorium, hingga kerja sama internasional dengan FAO, WOAH, dan IAEA.

Namun Sahat mengingatkan, benteng terakhir pencegahan wabah bukan hanya regulasi, melainkan kesadaran kolektif.

“Kalau masih ada yang coba-coba memasukkan ternak secara ilegal, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan peternakan nasional,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *