V Tech

Jadi Proyek Animasi Termahal dari Semesta BoBoiBoy, Papa Zola The Movie Telan Dana Rp85 Miliar

49
×

Jadi Proyek Animasi Termahal dari Semesta BoBoiBoy, Papa Zola The Movie Telan Dana Rp85 Miliar

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Industri animasi Asia Tenggara kembali menunjukkan geliat positif lewat kehadiran film animasi terbaru asal Malaysia berjudul Papa Zola The Movie. Sukses mencetak fenomena di negara asalnya, Malaysia, film animasi Papa Zola: The Movie (atau Papa Zola: Game On) akhirnya dipastikan menyapa penonton Indonesia.

Menggandeng MD Pictures sebagai distributor resmi, film produksi Monsta Studios ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Tanah Air pada 23 Januari 2026.

Kepastian ini disampaikan langsung dalam sesi wawancara roundtable bersama jajaran kreator dan distributor di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat, 9 Januari 2026.

Film yang disutradarai oleh Nizam Razak ini
menjadi salah satu tontonan yang paling dinantikan, khususnya bagi para penggemar semesta BoBoiBoy. Pasalnya, Papa Zola The Movie merupakan spin-off yang menghadirkan karakter ikonik Papa Zola dalam cerita yang lebih luas dan mendalam.

Kisahnya tidak sekadar menampilkan aksi jenaka sang guru “Kebenaran” yang ikonik dari serial BoBoiBoy. Lebih dari itu, Papa Zola: The Movie mengangkat kisah emosional tentang perjuangan seorang ayah.

Di balik penayangannya yang kian dekat, terungkap bahwa proses produksi Papa Zola The Movie bukanlah proyek yang singkat maupun murah. Nizam Abdul Razak selaku sutradara sekaligus penulis skenario animasi ini membagikan cerita panjang mengenai perjalanan kreatif film animasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa total pengerjaan proyek ini memakan waktu hingga tiga tahun.

“Production total dua tahun. Dua tahun tapi total project-nya tiga tahun. Satu, kita setahun pre-production, ceritanya, skripnya, then kita masuk production dua tahun. So total 3 years,” ujar Nizam Abdul Razak di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/1/2026).

Baja juga:  Eksplorasi Produk Terbaru TACO Alustro ACP (Aluminium Composite Panel) dalam Art Jakarta Gardens 2025

Menurut Nizam, tahap praproduksi menjadi fondasi penting dalam pengembangan film ini. Proses tersebut meliputi pengembangan cerita, penulisan skenario, hingga pematangan konsep visual agar karakter Papa Zola dapat tampil lebih kuat dan relevan bagi penonton lintas usia.

Setelah praproduksi rampung, tim kemudian melanjutkan ke tahap produksi yang berlangsung selama dua tahun penuh.Tak hanya menyita waktu, biaya produksi Papa Zola The Movie juga tergolong fantastis untuk biaya produksi ukuran animasi Asia Tenggara.

Nizam menyebutkan bahwa total anggaran yang dihabiskan mencapai 5 juta dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp80 miliar.”5 juta US dollar end-to-end. Artinya, itu bukan hanya biaya produksi, tetapi juga termasuk biaya pemasaran,” sambungnya.

Besarnya anggaran tersebut mencerminkan keseriusan tim produksi dalam menghadirkan kualitas animasi yang mumpuni, baik dari segi visual, cerita, maupun strategi distribusi.

Nizam menambahkan bahwa biaya besar ini juga tak lepas dari status Papa Zola The Movie sebagai bentuk dari pengembangan Intellectual Property (IP) yang ingin diperkuat secara mandiri.

“Biasanya untuk memulai IP baru, biayanya memang lebih besar dibandingkan IP-IP yang sudah ada sebelumnya,” ujar Nizam.

Meski berangkat dari semesta BoBoiBoy yang telah dikenal luas, Papa Zola The Movie tetap diposisikan sebagai karya yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, pengembangan karakter, dunia cerita, serta pendekatan naratif dilakukan dengan sangat hati-hati agar dapat diterima oleh penonton baru tanpa meninggalkan penggemar lama.

Dalam proses produksinya, tim Papa Zola The Movie juga menggandeng berbagai pihak, termasuk studio animasi lokal dari Indonesia. Hal ini menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas negara dalam industri animasi regional.

Baja juga:  Pemerintah Baru Gratiskan Biaya BBNKB Hasil Reformasi Polri

Meski film ini sudah rilis di Malaysia pada Desember 2025 dan sukses besar, MD Pictures memilih strategi berbeda untuk pasar Indonesia. Perwakilan Distributor MD Pictures, Rifky, menjelaskan alasan pemilihan tanggal 23 Januari 2026 bukan tanpa sebab.

Pihaknya ingin memberikan ruang napas agar film ini tidak bertarung langsung dengan film blockbuster Hollywood seperti Avatar yang mendominasi layar di akhir tahun.

“Menurut kita secara strategical, 23 Januari adalah waktu yang tepat. Jadi saat film Desember sedang tayang, kita promokan film Papa Zola. Jadi siapapun yang liburan nonton ‘film biru’ (Avatar) yang lagi box office besar, ada trailer Papa Zola, nanti mereka ingat,” kata Rifky.

Dia menambahkan faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan cerdas. “Nanti 23 Januari, dua hari lagi gajian tanggal 25, bisa langsung jajan nonton Papa Zola ajak keluarga,” ujarnya.

MD Pictures optimistis film ini akan diterima luas, mengingat rekam jejak universe BoBoiBoy yang selalu positif di Indonesia. Mereka ingin menargetkan ratusan layar untuk penayangan perdana.

Hal itu terbilang tak muluk muluk karena Di negara asalnya Malaysia, film ini mencatatkan prestasi luar biasa dengan meraih 3,5 juta penonton dan pendapatan sekitar 200 juta Ringgit.

Rifky dari MD Pictures menegaskan bahwa mereka tidak ingin membanding-bandingkan film ini dengan animasi negara lain. Fokus utama mereka adalah memberikan pengalaman menonton yang utuh dan menyentuh hati bagi keluarga Indonesia.

“Kami mau mereka menonton film Papa Zola dengan hati yang penuh, keluar dengan suasana happy, bisa menyayangi, ingat keluarga, ingat orangtua, atau ingat anak, itu adalah pengalaman utamanya,” imbuh Rifky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *