Venomena.id – Aliran Kalimalang selama puluhan tahun dikenal sebatas urat nadi air dan saksi bisu pertumbuhan Kota Bekasi. Kini, sungai itu tengah dipersiapkan untuk memainkan peran baru: destinasi wisata air dan kuliner yang digadang-gadang menjadi ikon baru kota penyangga Ibu Kota.
Harapan itu disampaikan langsung oleh Direktur Utama BUMD PT Mitra Patriot, David Hendradjid Rahardja, yang resmi menjabat untuk periode 2025–2030. Rabu (14/1), David memaparkan perkembangan proyek wisata Kalimalang yang saat ini masih dalam tahap awal pengerjaan.
“Proyek ini berjalan on the track. Jika tidak ada gangguan signifikan, terutama cuaca, tahap pertama kami targetkan rampung akhir Maret,” ujarnya.
Tahap awal pengembangan mencakup kawasan dari MM hingga Lagon, dengan konsep wisata air, sentra UMKM, dan ruang publik yang terintegrasi. Menariknya, proyek ini disebut tidak menggunakan dana APBD.
Tanpa APBD, Modal dari Investor dan CSR
David menegaskan, seluruh modal pengembangan berasal dari pihak investor, yang dalam proyek ini dikenal dengan sebutan Miju, serta skema CSR. Nilai investasi yang digelontorkan mencapai sekitar Rp48 miliar.
“Tidak ada APBD satu rupiah pun. Modal murni dari pihak swasta. Pemerintah kota melalui Mitra Patriot hanya memfasilitasi perizinan,” tegasnya.
Dengan skema tersebut, PT Mitra Patriot memperoleh bagi hasil 10 persen dari keuntungan bersih yang diterima setiap bulan setelah proyek mencapai break even point. Skema ini, kata David, kerap disalahpahami publik.
“Banyak yang bilang kecil. Tapi perlu dipahami, kami tidak mengeluarkan modal apa pun. Semua risiko finansial ada di investor,” jelasnya.
Estimasi pengembalian modal diproyeksikan pada bulan ke-9 atau ke-10 operasional, bersumber dari penyewaan kontainer, wisata air, hingga potensi pendapatan lain seperti antena dan kerja sama branding.
UMKM Jadi Penyangga Utama
Salah satu wajah utama wisata Kalimalang adalah keberadaan UMKM lokal. Dari total 87 unit kontainer, sebanyak 15 persen atau 12 kontainer dialokasikan khusus untuk UMKM dan pengrajin.
“Prioritas kami UMKM Kota Bekasi. Minimal mereka terdaftar di kelurahan, kecamatan, atau dinas terkait,” kata David.
Antusiasme pelaku usaha ternyata tinggi. Hingga pertengahan Januari, hampir 40 proposal UMKM telah masuk, jauh melampaui perkiraan awal.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha kecil, Mitra Patriot memberlakukan tarif khusus. Jika tarif umum sewa kontainer mencapai Rp100 juta, maka UMKM hanya dikenakan sekitar Rp50 juta per tahun. Bahkan angka itu masih berpotensi ditekan melalui subsidi sponsor branding hingga kisaran Rp30–40 juta per tahun.
Satu kontainer pun dapat digunakan bersama oleh dua hingga tiga UMKM. “Kontainernya cukup luas. Bisa disekat, jadi lebih efisien dan saling menguatkan,” ujarnya.
Proses seleksi akan dilakukan ketat bersama dinas terkait dan Dekranasda Kota Bekasi untuk memastikan pelaku UMKM yang terpilih memiliki rekam jejak usaha yang jelas dan berkelanjutan.
Wisata Air Ramah Lingkungan
Tak hanya kuliner, daya tarik utama lainnya adalah wisata air Kalimalang. Pada tahap pertama, akan dioperasikan sekitar lima kapal listrik, yang dipilih untuk meminimalkan pencemaran air.
“Ini air baku, sumber kehidupan. Perlindungan sungai jadi perhatian utama,” tegas David.
Pengelola juga menyiapkan sistem pengelolaan sampah terpisah, toilet portabel, serta rambu-rambu edukatif agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.
Estetika, Musik, dan JPO Ikonik
Berbeda dari kesan kontainer kaku, seluruh bangunan akan dimodifikasi dengan desain estetis, pencahayaan artistik, dan ruang terbuka. Di kawasan ini juga direncanakan panggung musik serta jembatan penyeberangan orang (JPO) dengan desain ikonik, lengkap dengan lampu-lampu yang berpotensi menjadi spot swafoto.
Soal parkir dan kemacetan—masalah klasik kawasan Kalimalang—pengelola mengaku telah berkoordinasi dengan dinas terkait dan pusat perbelanjaan sekitar. Pengunjung nantinya dapat memanfaatkan area parkir mal terdekat, dengan dukungan petugas lalu lintas dan pengelola parkir.
“Kami sadar, destinasi wisata pasti menimbulkan kepadatan. Tugas kami memastikan kemacetannya tetap bergerak dan terkendali,” ujar David.
Menjadi Ikon atau Sekadar Wacana?
Di atas kertas, wisata Kalimalang menawarkan konsep menjanjikan: tanpa APBD, memberdayakan UMKM lokal, ramah lingkungan, dan menyasar semua lapisan masyarakat. Namun publik tentu menanti pembuktiannya.
Apakah Kalimalang benar-benar akan bertransformasi menjadi ikon baru Kota Bekasi, atau sekadar menjadi proyek ambisius yang berhenti di tengah jalan, waktu dan konsistensi pengelolaan yang akan menjawabnya.
Akhir Maret menjadi penanda awal. Dari sanalah, Bekasi akan melihat apakah sungai yang lama dilupakan ini akhirnya menemukan masa depannya.
Daya tarik utama lain yang tengah disiapkan adalah paket wisata air menggunakan perahu listrik. Pengunjung nantinya dapat menikmati perjalanan menyusuri Kalimalang dengan lintasan sekitar 1,8 kilometer bolak-balik, melintasi kawasan MM hingga Lagon.
“Konsepnya sederhana tapi berkesan. Warga bisa menikmati Kalimalang dari sudut pandang yang selama ini tidak pernah mereka rasakan,” ujar David.
Paket wisata air ini dirancang ramah lingkungan. Seluruh armada yang dioperasikan menggunakan perahu listrik, sehingga tidak menimbulkan polusi suara maupun pencemaran air. Pada tahap pertama, pengelola menyiapkan sekitar lima unit perahu, dengan kapasitas penumpang yang disesuaikan standar keselamatan.
Selama perjalanan, penumpang akan disuguhi panorama bantaran Kalimalang yang ditata ulang, pencahayaan dekoratif di malam hari, serta konten narasi ringan tentang sejarah dan potensi sungai. Konsep ini diharapkan mampu menarik keluarga, komunitas, hingga wisatawan kelas menengah yang selama ini harus keluar kota hanya untuk merasakan wisata air.
“Harga paketnya kami buat sangat terjangkau. Targetnya bukan wisata eksklusif, tapi wisata rakyat dari masyarakat untuk masyarakat,” katanya.
Keberadaan wisata perahu ini sekaligus menjadi pengungkit bagi UMKM di kawasan kuliner. Pengunjung yang naik perahu diharapkan akan berakhir di area kontainer UMKM, menciptakan perputaran ekonomi lokal yang saling terhubung antara wisata air dan wisata darat.









