Venomena.id – Hasil Studi LPEM FEB UI menunjukkan tren penjualan mobil baru turun. Dimana puncak penjualan 1,22 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 866 ribu unit pada 2024.
Hal ini memperlihatkan bahwa tren penjualan mobil baru di Indonesia terus menurun dan kalah jauh dibandingkan mobil bekas.
Penurunan penjualan mobil baru ini kuat diduga terkait terjangkau tidaknya bagi masyarakat. Saat ini banyak terlihat kenaikan harga mobil baru jauh melampaui pertumbuhan pendapatan dan upah riil masyarakat, sehingga jarak antara harga kendaraan dan daya beli kian melebar.
“Kalau kita lihat income dari rumah tangga itu meningkatnya tidak secepat pertumbuhan harga mobil. Kalau kita lihat real Wage, dari upah real, itu juga kenaikannya tidak secepat inflasi. Itu salah satu indikator yang bisa dilihat, yang mengindikasikan bahwa adanya gap antara harga (mobil baru) dan juga kemampuan beli dari rumah tangga saat ini,” ungkap Peneliti LPEM FEB UI, Syahda Sabrina, dalam paparannya, Selasa 20 Juni 2026.
Imbas penurunan tren mobil baru membuat pangsa pasar mobil bekas melonjak hingga 67,5 persen, sementara mobil baru hanya 32,5 persen pada 2024.
Prediksi adanya kondisi mobil bekas lebih melambung harganya bisa terjadi di lima tahun ke depan, dengan mayoritas konsumen lebih memilih mobil bekas karena selisih harga yang besar dan depresiasi mobil baru yang cepat.
“Model dengan nilai jual kembali yang kuat seperti Toyota Innova yang masih mempertahankan sekitar 73 persen dari harga OTR cenderung tetap diminati dan mampu menjaga penjualan mobil barunya,” ungkapnya.









