V News

Daging Langka Jelang Lebaran, Distribusi Dipertanyakan: Pedagang Mengeluh, Harga Meroket

63
×

Daging Langka Jelang Lebaran, Distribusi Dipertanyakan: Pedagang Mengeluh, Harga Meroket

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ironi terjadi di Pasar Baru, Kota Bekasi. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan, terutama daging sapi, para pedagang justru menghadapi kelangkaan pasokan yang berdampak langsung pada melonjaknya harga di tingkat konsumen, Kamis (19/3).

Sejak pagi hari, lapak-lapak daging sudah kehabisan stok. Bahkan, sejumlah pedagang mengaku dagangannya habis hanya dalam hitungan jam.

“Dari jam 9 pagi sudah nggak ada daging. Kemarin juga sama, jam 1 siang sudah kosong. Barangnya memang nggak ada dari atas,” ujar M. Soleh, salah satu pedagang daging.

Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh pembatasan pemotongan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Padahal, informasi yang beredar menyebutkan stok sapi sebenarnya mencukupi.

“Yang jadi pertanyaan, kenapa pemotongan dibatasi? Katanya stok banyak, tapi di bawah kosong. Masyarakat kan butuh, apalagi mau Lebaran buat rendang dan semur,” keluhnya.

Akibat keterbatasan pasokan, harga daging pun melambung tinggi. Untuk daging paha belakang, harga kini menyentuh Rp180 ribu per kilogram. Sementara tulang iga dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram. Pedagang mengaku tidak punya pilihan selain mengikuti harga dari pemasok.

Baja juga:  Pimpin Kementerian Perlindungan Pekerja Migran, Abdul Karding Diragukan Kemampuannya

“Kalau barangnya ada, mau Rp200 ribu juga pasti dibeli. Masalahnya ini barang kosong. Bahkan pedagang dibatasi, biasanya bisa ambil lima ekor, sekarang cuma boleh tiga,” tambah Soleh.

Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana pasokan relatif aman tanpa pembatasan. Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan untuk menormalkan distribusi, terutama menjelang puncak kebutuhan Lebaran.

Keluhan serupa juga datang dari pedagang bumbu dapur. Arif, pedagang bumbu di pasar yang sama, menyebut kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang merah.

“Cabai sama bawang naik. Bawang merah dari sekitar Rp37 ribu sekarang jadi Rp44 ribu. Minyak juga naik, yang biasanya Rp20 ribu sekarang bisa Rp23–24 ribu,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain harga naik, beberapa barang juga mulai sulit didapat, terutama minyak goreng curah yang stoknya semakin terbatas.

Baja juga:  Bentuk BESTRI, Para Mantan Caleg Gelora Jebolan Kader PKS Sepakat Menangkan Tri Adhianto Jadi Wali Kota Bekasi

Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakui adanya indikasi kelangkaan daging di tingkat pasar. Ia menyebut pemerintah masih menelusuri penyebab utama, termasuk kemungkinan adanya kendala distribusi atau peningkatan permintaan.

“Kita temukan informasi awal ada pembatasan pemotongan di RPH. Ini akan kita koordinasikan dengan pemerintah provinsi dan pusat, untuk memastikan pola distribusinya berjalan baik,” kata Tri.

Menurutnya, kelangkaan ini bisa dipicu oleh keterlambatan distribusi akibat kondisi lalu lintas, atau justru lonjakan kebutuhan masyarakat yang tidak diimbangi pasokan. Meski demikian, ia memastikan secara umum ketersediaan bahan pokok masih relatif aman.

“Secara umum barang tersedia, walaupun ada kenaikan harga. Ini yang harus kita kendalikan agar tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi,” tegasnya.

Di tengah ramainya arus mudik yang justru mengalami penurunan dari Kota Bekasi, peningkatan konsumsi di dalam kota diduga ikut mendorong lonjakan kebutuhan bahan pangan. Namun tanpa distribusi yang lancar, kondisi ini berisiko menekan daya beli masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *