V Lifestyle

Garap Remake Children Of Heaven, Hanung Bramantyo Akui Temui Beberapa Kesulitan Ini

48
×

Garap Remake Children Of Heaven, Hanung Bramantyo Akui Temui Beberapa Kesulitan Ini

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Sutradara Hanung Bramantyo dipercaya rumah produksi MD Pictures untuk melakukan remake atas salah satu film box office asal Iran berjudul Children of Heaven.

Versi asli film garapan sutradara Majid Majidi tersebut berhasil mendapatkan penghasilan sebesar 1,6 juta USD, jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan biaya produksi yang hanya menelan biaya 180 ribu USD.

Hanung Bramantyo mengalami sejumlah tantangan atau kesulitan saat mengerjakan film Children of Heaven. Pasalnya film Ini dibuat ulang dari film Iran berjudul sama, peraih nominasi Piala Oscar kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada 1998. Me-remake film kaliber Oscar bukan perkara mudah bagi Hanung Bramantyo.

Salah satu tantangannya, membuat naskah versi Indonesia agar tak terkesan hanya copy-paste dari sumber aslinya. Mulanya, ia sudah punya template sejumlah adegan untuk meremas hati penonton sampai menangis di bioskop.

Rupanya, bukan itu tujuan Majid Majidi ketika dia membuat Children of Heaven. Saat skenario itu dipresentasikan kepada pihak Majid Majidi, Hanung Bramantyo kena koreksi.

“Jadi punya template untuk membuat sedih penonton. Ingin membuat sedih sehingga adegan itu saya tambah-tambahi, karena penonton harus sedih dan sebagainya. Kemudian, skenario itu di-reviu sama tim produser. Dari situ saya mendapat masukan,” kata Hanung Bramantyo.

Suami Zaskia Adya Mecca mendapat masukan. Salah satunya, banyak sekali sutradara atau negara yang membuat ulang Children of Heaven tapi dianggap gagal karena salah fokus. Mereka berfokus pada kesedihan. Padahal bukan itu tujuan Children of Heaven.

Dia menekankan Film Children of Heaven ingin menggambarkan ketika anak-anak memiliki persoalan berat seperti kehilangan sepatu, mereka tetap menunjukkan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Tanpa bantuan orang lain sembari tetap menjaga martabat.

Baja juga:  Film Puang Bos Hadirkan Kearifan Lokal Suku Bugis

“(Kata pihak Majid Majidi) bukan fokus pada bagaimana penonton merasa tersentuh pada anak-anak yang jadi tokoh utama. Saat membuat, saya tidak pernah memikirkan penonton akan menangis, tidak memikirkan adegan ini harus sedih atau bagaimana. Tidak,” imbuhnya.

“Meski anak-anak ini jatuh ke dalam persoalan besar, mereka menjaga martabat. Menjaga martabat, itu kuncinya. Jangan jatuh kepada rengekan atau mengiba. Dengan menunjukkan martabat, maka hati seluruh manusia akan tercerahkan,” Hanung Bramantyo menyambung.

Lalu juga hal lain yakni,film aslinya menerapkan sensor kebudayaan secara ketat dimana perempuan, baik anak-anak ataupun dewasa, harus mengenakan hijab.

Hal lain yang membuat Hanung Bramantyo sempat kesulitan untuk mengadaptasi film Children of Heaven disesuaikan dengan kebudayaan di Tanah Air. Karena penggunaan hijab pada masa Orde Baru tidak sebebas sekarang.

“Di tahun 1980-an, jilbab dilarang oleh pemerintah Orde Baru. Jilbab itu nggak seperti sekarang orang bisa pakai jilbab ke mana-mana dengan bebasnya. Di pasar, ibu-ibu sekarang sudah pakai jilbab dan segala macam,” ungkap Hanung Bramantyo.

“Tapi yang terpatri di mata penonton, Zahra itu kan lari-lari menggunakan hijab. Terus kita mencari cara bagaimana supaya si anak ini tetap merepresentasikan Zahra yang menggunakan jilbab. Kita menemukan satu masa transisi tahun 1980, sudah ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang menerapkan jilbab meski tidak semuanya,” imbuhnya.

Hanung Bramantyo akhirnya menjadikan momen itu untuk mengadaptasi film Children of Heaven.

“Meski tidak semua murid (pakai hijab). Jadi, ada yang ada yang pakai jilbab, ada yang nggak, dibebasin dan jilbabnya masih lucu. Dia pakai jilbab tapi pakai rok pendek gitu, terus pakai lengan pendek gitu kan. Istilahnya masih ragu-ragu mau pakai jilbab,” ujar Hanung Bramantyo.

Baja juga:  Uji Nyali di Kereta Hantu Pabrik Tebu, Wahana Horor Lokal yang Bikin Bekasi Merinding

Kesulitan lain yang dihadapi saat melakukan remake film Children of Heaven adalah harus menerapkan sistem syuting sehat karena melibatkan pemain anak. Hanung mengaku, dirinya tidak mau mempekerjakan anak-anak dengan sistem yang berlaku untuk orang dewasa.

Penerapan syuting sehat untuk anak benar-benar ditegakkan selama produksi film Children of Heaven. Misalnya, anak tidak boleh bekerja terlalu lelah dan tidak boleh syuting sampai malam hari. Seumpama ada scene yang mengharuskan dilakukan pada malam hari, pada siang harinya tidak boleh ada kegiatan syuting.

“Kita harus menerapkan sistem syuting yang sehat buat anak-anak karena mereka sebenarnya kan tidak diperbolehkan bekerja, sebenarnya mereka waktunya belajar. Tidak boleh syuting itu menjadi ajang mereka untuk cari duit gitu, meski sebenarnya mendapatkan uang juga dari sini. Tapi uang bukan menjadi tujuan utama,” tuturnya.

Kesulitan lain pengerjaan film Children of Heaven yang sempat dihadapi Hanung dan tim adalah menghadirkan ajang lari marathon dengan setting tahun 1980-an. Menurut Hanung, lari marathon pada era tersebut sangat jauh berbeda dengan era sekarang.

“Kita harus blokir jalan, nggak boleh ada orang lewat. Karena kalau sampai ada mobil lewat, ketahuan mobil-mobil itu adalah mobil sekarang. Motor juga nggak boleh lewat karena motor sekarang banyaknya motor matic. Dulu pakai kopling gitu kan,” ungkap Hanung Bramantyo.

Film Children of Heaven versi Indonesia rencananya akan tayang mulai 27 Mei 2026. Ini adalah film Hanung Bramantyo yang ramah anak setelah biasanya dia menggarap film dewasa seperti drama percintaan hingga kisah perselingkuhan.

“Film ini adalah gala premiere pertama saya akan mengajak anak-anak saya nanti,” kata Hanung Bramantyo antusias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *