V Edu

Hadirkan Direktori Profesi Tunanetra, Yayasan Mitra Netra Dorong Inklusivitas di Sektor Formal

61
×

Hadirkan Direktori Profesi Tunanetra, Yayasan Mitra Netra Dorong Inklusivitas di Sektor Formal

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Sektor ketenagakerjaan nasional saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait inklusivitas,khususnya bagi penyandang disabilitas netra ditengah ambisi Indonesia mengoptimalkan bonus demografi menuju visi Indonesia Emas 2045.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tercatat lebih dari 17,8 juta orang. Meski demikian tingkat partisipasi kerja mereka baru mencapai 23,94 persen.

Kesenjangan ini semakin nyata merujuk pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menunjukkan bahwa dari 4,2 juta penyandang disabilitas sensorik netra, hanya sekitar 1% yang berhasil masuk ke sektor formal.

Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Mitra Netra meluncurkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia pada tanggal 11 Desember 2025 sebagai referensi strategis bagi masyarakat, pemangku kebijakan, dan penyedia lapangan kerja dalam membangun ekosistem kerja yang inklusif.

Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra Aria Indrawati mengungkapkan, penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam rangka menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional. Menurut Aria, besarnya peluang kontribusi talenta tunanetra perlu dioptimalkan, khususnya di sektor formal.

“Mereka (perekrut kerja) juga harus memiliki wawasan, pengetahuan tentang perekrutan penyandang disabilitas dari berbagai ragam,” kata Aria saat ditemui dalam acara Media Gathering bertajuk “35 Tahun Mitra Netra Bersama Media Berperan Membangun Indonesia yang Inklusif” di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

“Sehingga tidak ada lagi stereotip disabilitas tapi yang bisa melihat, bisa berjalan, bisa mendengar, jadi yang totally blind bagaimana dong. Nah itu yang masih harus terus kami perjuangkan,” lanjut dia.

Baja juga:  Melihat Lebih Jauh Simulasi Sekolah Rakyat Hari ke-2 di Bekasi: Mantul! Jauh Lebih Baik dari Sekolah Negeri Umumnya

Aria menjelaskan, rendahnya penyerapan tenaga kerja tunanetra sering kali berakar pada hambatan struktural, terutama ketidakpahaman penyedia lapangan kerja mengenai kemampuan, bidang pekerjaan dan metode bekerja karyawan tunanetra di lingkungan profesional.

Untuk memitigasi hal ini, perusahaan perlu memahami perbedaan mendasar antara aksesibilitas dan akomodasi.

Aksesibilitas merujuk pada penyediaan kemudahan yang bersifat fisik dan digital, yakni pada aspek fisik seperti pemasangan jalur pemandu (guiding block) dan label huruf Braille, maupun aspek digital melalui pengembangan situs web dan aplikasi yang dapat diakses dengan menggunakan aplikasi pembaca layar.

Dalam ranah digital,hal ini dioptimalkan dengan teknologi asistif seperti perangkat lunak Non Visual Desktop Access (NVDA), yang tentunya memungkinkan tunanetra dapat mengakses dokumen, mengelola basis data, hingga melakukan pemrograman secara mandiri dengan bantuan suara.

Karena itu, Yayasan Mitra Netra meluncurkan direktori pekerjaan tunanetra sebagai referensi strategis bagi masyarakat, pemangku kebijakan, dan penyedia lapangan kerja dalam membangun ekosistem kerja yang inklusif.

“Kami awalnya mendata tunanetra yang sudah bekerja, setelah terdata, lalu kami klaster pekerjaannya menjadi tujuh bidang, seperti teknologi, komunikasi, administrasi, pendidikan, keuangan, pengembangan kebijakan dan satu klaster yang saya alokasikan untuk lain-lain,” kata Aria.

“Karena saya daftarnya di biro hukum yang lain nilainya tinggi-tinggi. Jadi saya berusaha bisa punya nilai yang paling tidak mirip-mirip seperti teman-teman di formasi hukum, supaya mereka tidak menganggap disabilitas bisa masuk karena keberuntungan saja,” tutur Andira.

Adapula kisah inspiratif dari Sigit Yulyadi. Sigit kini bekerja di bidang retail, ia membuktikan bahwa tunanetra mampu bekerja sebagai digital customer service dengan memanfaatkan bantuan pembaca layar, yang memungkinkannya menangani keluhan pelanggan sesuai standar perusahaan.

Baja juga:  Kabar Gembira, Gaji Guru ASN Akan Naik 2 Juta

“Jadi screen reader ini menjadi tools utama teman-teman tunanetra, termasuk saya sendiri untuk menunjang pekerjaan, khususnya saya pribadi di bidang customer service,” katanya.

Sementara itu dari sisi industri, Chief Executive Officer (CEO) Imamatek, Agung Sachli mempelopori integrasi talenta tunanetra sebagai software tester sejak 2023. Kolaborasi ini membuktikan bahwa quality controller tunanetra memiliki ketajaman mumpuni dalam mengevaluasi alur logika aplikasi yang sering terlewatkan.

Hal senada juga disampaikan oleh RS Jakarta Eye Center melalui inisiatif human capital yang menempatkan staf tunanetra di contact center. Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan teknologi dan pendampingan yang tepat, dapat diatasi sekaligus menghadirkan empati yang lebih mendalam dalam layanan pasien.

Mitra Netra berharap direktori pekerjaan tunanetra mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas, sekaligus memastikan setiap individu, termasuk tunanetra, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, dalam rangka memperingati 35 tahun dedikasinya, Mitra Netra menghadirkan direktori ini sebagai panduan praktis yang merangkum 36 profesi yang telah ditekuni secara sukses oleh individu tunanetra di Indonesia hingga tahun 2025.

Seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan dapat mengakses dokumen lengkap tersebut guna menjadi referensi bersama melalui https://bit.ly/Direktori_Pekerjaan_Tunanetra_Indonesia atau dapat diakses melalui website Mitra Netra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *