V Edu

Kuliah Hospitality di Era AI: Antara Kecemasan Orang Tua dan Janji Siap Kerja Kampus

78
×

Kuliah Hospitality di Era AI: Antara Kecemasan Orang Tua dan Janji Siap Kerja Kampus

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Di tengah laju cepat kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, dan tuntutan keberlanjutan, pilihan studi di bidang hospitality kerap dipandang gamang. Orang tua khawatir, apakah industri ini masih menjanjikan? Atau justru tergerus otomatisasi?

Pertanyaan itu dijawab berbeda oleh pelaku industri dan kampus. Alih-alih menyusut, sektor hospitality justru melebar. Ia tak lagi sebatas hotel, melainkan merentang ke pariwisata, event, kuliner, layanan premium, hingga bisnis berbasis pengalaman (experience economy). Perubahan ini menggeser kebutuhan tenaga kerja, bukan hanya terampil secara operasional, tetapi juga paham bisnis, adaptif terhadap teknologi, dan sadar keberlanjutan.

BINUS University, melalui Program Hotel Management di Kemanggisan dan Business Hotel Management di Bekasi, membaca arah perubahan ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Kampus swasta tersebut menekankan pendekatan pembelajaran yang terhubung langsung dengan industri, mulai dari simulasi hotel global, proyek riil, hingga magang yang diklaim menjangkau pasar internasional.

Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism BINUS University, Dr. Yanti, menyebut bahwa pendidikan hospitality tak bisa lagi bertumpu pada keterampilan layanan semata. “Industri tidak hanya berubah, tapi berevolusi dengan standar baru, termasuk sustainability. Lulusan harus siap memahami arah industri, bukan sekadar masuk kerja,” ujarnya di kampus BINUS Bekasi, Selasa (5/5).

Baja juga:  Mimpi Keimita Terganjal Sistem: Anak Pemulung Berprestasi Gagal Masuk SMP Negeri Bekasi

Pendekatan itu diterjemahkan ke dalam dua jalur berbeda. Program Hotel Management menekankan operasional dan service excellence berbasis standar global, sementara Business Hotel Management lebih condong ke kewirausahaan, inovasi bisnis, dan digital hospitality.

Namun klaim siap kerja kerap menjadi jargon yang diuji di lapangan. Industri sendiri mengakui kebutuhan talenta kini makin spesifik. CEO AR HOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menilai perusahaan tidak lagi cukup mencari lulusan yang paham layanan. “Kami butuh yang mengerti bisnis, teknologi, dan sustainability sekaligus. Yang punya perspektif itu lebih siap menghadapi dinamika,” katanya.

Senada, Vice President Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), Garna Sobhara Swara, menekankan satu hal yang tak bisa digantikan mesin, passion. “Hospitality bukan pekerjaan mudah. Butuh orang yang memang punya minat dan daya tahan,” ujarnya.

Di sisi lain, cerita alumni menunjukkan jalur karier yang tak selalu linier. Ada yang membangun restoran, menjadi konsultan keuangan bisnis F&B, hingga merintis kedai kopi. Mereka menilai bekal utama bukan sekadar teknik operasional, melainkan pola pikir bisnis dan keberanian membaca peluang.

Baja juga:  Feature Keimita Tak Lolos SMP Negeri: Antara Mimpi, Domisili, dan Birokrasi

Fenomena ini sekaligus menguatkan satu hal, hospitality bukan lagi jurusan kerja di hotel. Ia telah menjadi pintu masuk ke industri jasa yang jauh lebih luas. Bahkan, dalam praktiknya, banyak lulusan lintas disiplin ikut bersaing di sektor ini menandakan daya tariknya yang kian terbuka.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Kesenjangan antara dunia kampus dan kebutuhan industri masih kerap muncul, terutama dalam hal kesiapan mental, pengalaman lapangan, dan kemampuan adaptasi. Kolaborasi yang erat antara kampus dan industri disebut menjadi kunci untuk menutup celah tersebut.

BINUS mengklaim telah menempuh jalur itu melalui kemitraan dengan jaringan hotel global seperti AR HOTEL Group, Mandarin Oriental, hingga Hyatt. Mahasiswa juga didorong mengikuti magang, bahkan hingga luar negeri, sebagai bekal menghadapi standar kerja internasional.

Pada akhirnya, pilihan studi hospitality kembali pada satu pertanyaan mendasar, apakah ini sekadar mencari kerja, atau membangun karier di industri global yang terus berubah?

Bagi orang tua, kekhawatiran itu belum tentu hilang. Namun bagi kampus dan industri, jawabannya mulai mengerucut masa depan hospitality bukan hilang, melainkan bergeser. Dan mereka yang mampu mengikuti pergeseran itulah yang akan bertahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *