Venomena.id – Kasus dugaan perundungan yang melibatkan dua siswi di salah satu SMA negeri di Kota Bekasi bermula dari hal yang kerap dianggap sepele ejekan di lingkungan sekolah. Namun, rangkaian peristiwa yang terjadi sejak awal 2026 itu justru berujung pada kekerasan fisik dan konflik berkepanjangan.
Berdasarkan keterangan Ibu Korban, Eka Dini Amalia, korban berinisial L, siswi kelas 10, diduga telah mengalami perundungan verbal sejak awal masuk sekolah pada Januari 2026. Bentuknya beragam, mulai dari komentar fisik, sindiran penampilan, hingga sebutan merendahkan seperti kampungan. Ejekan disebut dilakukan oleh sekelompok kakak kelas, termasuk siswi berinisial N dari kelas 11.
Meski disebut telah berulang kali terjadi, keluarga mengaku tidak melihat adanya respons serius dari pihak sekolah. L disebut memilih diam dan berusaha menghindar, hingga akhirnya situasi memuncak pada Kamis, 6 Februari 2026.
Saat itu, di jam istirahat, L tengah berada di kantin untuk membeli makanan. Ejekan kembali dilontarkan. Kali ini, menurut keterangan keluarga, menyasar pakaian yang dikenakan korban. Situasi yang awalnya berupa saling sindir berubah menjadi ketegangan terbuka.
Ketika L mencoba menanyakan alasan dirinya terus menjadi sasaran, respons yang diterima justru disebut berupa tindakan fisik. Ia diduga ditendang, dijambak, dan didorong. Dalam kondisi terdesak, L membalas menggunakan tutup tempat makan (ompreng) yang dibawanya.
“Anak saya ditendang dan dijambak oleh pelaku. Karena membela diri anak saya kemudian balas menjambak pelaku. Dan refleks karena sedang membawa ompreng ke kantin, kemudian memukul pelaku dengan ompreng karena membela diri, ” papar Ibu korban, Rabu (15/4).
Peristiwa itu pun menarik perhatian siswa lain dan segera ditangani pihak sekolah. Namun, tidak adanya rekaman CCTV di lokasi yang disebut sedang dalam perbaikan membuat titik awal kekerasan menjadi kabur.
Ketiadaan bukti visual ini menjadi celah yang memperbesar perbedaan versi antara pihak yang terlibat. Satu pihak menekankan adanya rangkaian perundungan sebelumnya, sementara pihak lain melihat kejadian sebagai konflik spontan.
Peristiwa di kantin itu menjadi titik balik. Dari yang semula diduga perundungan verbal berkepanjangan, berubah menjadi kasus kekerasan fisik yang kemudian menyeret banyak pihak.









