V Opini

Pendidikan Islam di Tengah Arus Kapitalisme: Saatnya Kembali pada Niat dan Tujuan

29
×

Pendidikan Islam di Tengah Arus Kapitalisme: Saatnya Kembali pada Niat dan Tujuan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ishana Adriana D,SE,MMCFP (Pemerhati Pendidikan Islam)

Pendidikan Islam sejatinya lahir sebagai sarana mencetak generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan memiliki tanggung jawab terhadap agama, bangsa, dan negara. Namun, di tengah perkembangan zaman dan tuntutan ekonomi, muncul fenomena yang kerap menjadi perbincangan, yaitu masuknya logika kapitalisme ke dalam dunia pendidikan Islam.

Pendidikan Islam kapitalis dapat dipahami sebagai kondisi ketika prinsip-prinsip pasar, seperti komersialisasi, kompetisi, dan orientasi keuntungan, mulai mendominasi pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Dalam situasi ini, sekolah atau kampus tidak lagi dipandang semata sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga sebagai entitas bisnis yang harus menghasilkan keuntungan finansial.

Fenomena ini dapat dikenali melalui beberapa ciri. Pertama, biaya pendidikan yang semakin tinggi sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat mengaksesnya. Kedua, munculnya persaingan fasilitas dan pencitraan antarlembaga pendidikan untuk menarik minat calon peserta didik. Ketiga, bergesernya orientasi pendidikan dari pembentukan karakter dan akhlak menjadi sekadar pencetak lulusan yang siap masuk dunia kerja. Keempat, besarnya anggaran yang dialokasikan untuk promosi dan branding, sehingga label Islam terkadang diperlakukan sebagai komoditas pemasaran.

Beberapa ciri yang sering muncul dalam praktik pendidikan yang terlalu berorientasi bisnis antara lain biaya pendidikan yang semakin tinggi, persaingan fasilitas yang berlebihan, promosi dan pencitraan yang masif, serta bergesernya tujuan pendidikan dari pembentukan karakter menjadi sekadar pencetak tenaga kerja.

Dalam perspektif Islam, pendidikan sejatinya adalah investasi peradaban dan sarana ibadah. Karena itu, pendidikan tidak boleh kehilangan ruh utamanya, yaitu mencetak generasi yang berilmu sekaligus berakhlakul karimah.

Mengembalikan Tujuan Pendidikan Islam.

Kepada para pengelola dan pemilik yayasan pendidikan Islam, sudah saatnya kita terus meluruskan niat dan kembali kepada prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam.

Lembaga pendidikan hendaknya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah siswa atau keuntungan finansial, tetapi juga berfokus pada peningkatan mutu pendidikan, pembentukan karakter, pelayanan yang berkualitas, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Baja juga:  Aksi Nyata KPK Soal Aliran Dana Kasus Mantan Walikota Bekasi Rahmat Effendi Cs Dinanti Publik

Di satu sisi, modernisasi pendidikan memang diperlukan. Sekolah harus memiliki fasilitas yang memadai, guru yang kompeten, dan manajemen yang profesional. Namun, ketika orientasi keuntungan menjadi tujuan utama, pendidikan berisiko kehilangan ruhnya. Pendidikan Islam tidak boleh hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang beriman, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

Karena itu, para pengelola yayasan pendidikan Islam perlu terus meluruskan niat dan kembali pada prinsip dasar pendidikan Islam. Lembaga pendidikan hendaknya menjadi sarana pengabdian dan dakwah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari jumlah siswa, kemegahan gedung, atau besarnya pemasukan, tetapi juga dari kualitas lulusan yang dihasilkan.

Di sisi lain, para orang tua juga perlu bersikap bijak dalam memilih sekolah bagi putra-putrinya. Tidak perlu merasa minder apabila kondisi ekonomi belum memungkinkan untuk menyekolahkan anak di sekolah yang mahal atau populer. Sekolah yang baik bukan selalu yang paling mewah, melainkan yang mampu memberikan pendidikan berkualitas sesuai kebutuhan dan kemampuan keluarga.

Hindari Gaya Hidup Hedonisme Dalam Pendidikan 

Orang tua juga perlu berhati-hati terhadap budaya hedonisme yang terkadang muncul dalam lingkungan pendidikan tertentu.

Pendidikan anak bukan hanya sampai jenjang SD, SMP, atau SMA, tetapi berlanjut hingga perguruan tinggi. Oleh karena itu, perencanaan keuangan pendidikan harus dilakukan secara matang.

Jangan sampai keputusan memilih sekolah hanya didasarkan pada keinginan mendapatkan pengakuan sosial atau gengsi semata. Fokus utama harus tetap pada kualitas pendidikan, pembentukan karakter, serta kesiapan anak menghadapi masa depan.

Pesan untuk Para Orang Tua

Ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan sebelum memilih sekolah, yaitu sejarah dan rekam jejak sekolah, status akreditasi, kualitas tenaga pendidik, prestasi yang pernah diraih, serta kesesuaian biaya dengan kemampuan orang tua. Jangan sampai keputusan memilih sekolah hanya didasarkan pada gengsi sosial atau keinginan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Baja juga:  Songong Gibran Debat Pilpres Keempat

Perlu dipahami bahwa sekolah mahal tidak selalu menjamin kualitas pendidikan yang lebih baik. Gedung yang megah, fasilitas yang lengkap, atau program unggulan yang dipromosikan secara besar-besaran belum tentu sebanding dengan kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter yang diberikan kepada siswa.

Oleh sebab itu, sebelum mendaftarkan anak ke sebuah sekolah, orang tua perlu mencari informasi secara menyeluruh. Tanyakan apakah biaya SPP akan naik setiap tahun, apakah terdapat biaya daftar ulang tahunan, berapa besar kenaikannya, serta bagaimana transparansi penggunaan dana yang dibayarkan oleh orang tua. Transparansi merupakan bagian penting dari tata kelola pendidikan yang sehat dan akuntabel.

Selain itu, orang tua juga perlu mewaspadai budaya hedonisme yang terkadang tumbuh di lingkungan pendidikan tertentu. Pendidikan anak adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti pada jenjang SD, SMP, atau SMA, melainkan berlanjut hingga perguruan tinggi. Karena itu, pengelolaan keuangan pendidikan harus dilakukan secara cermat dan berkelanjutan.

Gunakan Rumus 5M Sebelum Memilih Sekolah

Sebagai panduan sederhana, orang tua dapat menggunakan Rumus 5M sebelum memilih sekolah: pertama, Melihat kondisi sekolah secara langsung. Kedua, Mengamati proses belajar dan budaya sekolah. Ketiga, Mengecek legalitas, akreditasi, dan prestasi sekolah. Keempat, Menanya tentang biaya, kurikulum, serta program pendidikan. Kelima, Mendaftar setelah memperoleh informasi yang lengkap dan objektif.

Pada akhirnya, pendidikan Islam harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang luhur. Profesionalisme dan keberlanjutan keuangan memang penting, tetapi jangan sampai menggeser tujuan utama pendidikan itu sendiri. Sekolah, madrasah, dan pesantren harus menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas, mandiri, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Sebab hakikat pendidikan bukanlah tentang seberapa mahal biaya yang dibayarkan, melainkan seberapa besar nilai dan manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi masa depan bangsa Indonesia. #

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *