Venomena.id – Peluncuran dan Bedah Buku Skala Internasional Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia karya Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) Semester I, berlangsung sukses di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI), Depok, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara di dukung Perpurnas,Ikapi,Kemenpora RI dan lainnya tersebut menjadi ajang apresiasi terhadap perjalanan inspiratif seorang anak desa yang mampu mengubah keterbatasan menjadi prestasi dunia melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Acara dihadiri ratusan peserta secara luring maupun daring dari kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi kesehatan, hingga masyarakat umum.
Peluncuran buku secara resmi dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilannya.
Selain itu, kegiatan turut mendapat dukungan dan dihadiri sejumlah akademisi nasional serta tokoh dari berbagai institusi. Kehadiran para narasumber memperkuat pesan bahwa inovasi lahir dari ketekunan, integritas, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Dalam sambutannya, Muhammad Ja’far Hasibuan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas kepercayaan yang diberikan melalui program Beasiswa Kapolri sehingga dirinya dapat melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara.
“Kepercayaan besar dari negara ini tidak pernah sekalipun saya sia-siakan. Segala ilmu yang saya pelajari saya wujudkan dalam karya nyata dan inovasi agar dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujar Ja’far.
Ia juga mengaku sangat terharu karena Kapolri berkenan meresmikan peluncuran dan bedah bukunya melalui perwakilan yang hadir pada acara tersebut.
“Terima kasih yang tak terhingga atas kehormatan besar ini. Dukungan Ayahanda Kapolri beserta jajaran menjadi semangat bagi saya untuk terus berjuang, berkarya, dan mengabdi bagi bangsa dan kemanusiaan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang mewakili keluarga, menyampaikan apresiasi atas perjalanan hidup Ja’far yang dinilainya menjadi bukti bahwa kerja keras, doa, dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang mencapai prestasi luar biasa.
Menurutnya, buku ini bukan hanya menceritakan keberhasilan seorang individu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia agar tidak menyerah pada keterbatasan ekonomi maupun kondisi sosial.
Buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia mengisahkan perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan yang berasal dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Berbekal uang hanya Rp70.000, ia merantau untuk menempuh pendidikan sambil bekerja keras hingga akhirnya berhasil mengembangkan Biofar SS, inovasi berbasis herbal untuk penanganan berbagai penyakit kulit yang telah memperoleh pengakuan dan penghargaan di tingkat internasional.
Dalam sesi bedah buku, para pembahas menilai karya tersebut tidak hanya menyajikan kisah perjuangan personal, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai pentingnya ilmu pengetahuan yang berpihak kepada masyarakat. Nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta semangat inovasi menjadi benang merah yang mewarnai seluruh isi buku.
Acara turut menghadirkan Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., Guru Besar FKM UI; Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung; serta dimoderatori oleh Humaira Anggie Nauli, S.K.M., M.K.M. Sejumlah pejabat nasional, termasuk Menteri dan pimpinan lembaga, juga memberikan dukungan, sementara beberapa di antaranya sebelumnya tercatat hadir dalam status konfirmasi.
Melalui peluncuran buku ini, Mega Press Nusantara berharap lahir lebih banyak generasi muda Indonesia yang berani bermimpi besar, memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, serta membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat global.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan buku kepada para narasumber, sesi diskusi interaktif, penandatanganan buku oleh penulis, dan foto bersama seluruh peserta sebagai simbol lahirnya semangat baru untuk membangun bangsa melalui inovasi, literasi, dan pengabdian.
Salah satu pembahas buku, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengapresiasi penyelenggaraan Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi yang baik antara panitia pelaksana, Mega Press Nusantara sebagai penerbit, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang mendukung penuh pelaksanaan acara.
“Saya mengapresiasi kerja keras Panitia Pelaksana, penerbit Mega Press Nusantara, serta dukungan penuh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang telah mempersiapkan acara ini dengan sangat baik. Kegiatan ini menjadi ruang yang sangat positif untuk membangun budaya literasi, inovasi, dan inspirasi bagi masyarakat,” ujar Rosleny.
Ia mengaku bangga dapat menjadi salah satu narasumber dalam forum tersebut bersama para akademisi, pakar, dan unsur pemerintahan yang turut membahas buku karya Muhammad Ja’far Hasibuan.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat berdampingan dengan para narasumber hebat dalam mengulas perjalanan inspiratif Muhammad Ja’far Hasibuan. Kisahnya menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang memberi manfaat luas bagi masyarakat,” katanya.
Rosleny berharap buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan hidup penulis, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus bertumbuh.
“Semoga kegiatan ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap anak bangsa sesuai dengan fase kehidupannya. Kita perlu membangun growth mindset, memiliki ketangguhan mental, serta mampu melewati setiap tahapan kehidupan dengan baik sehingga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, tangguh, dan bermanfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
Dalam sesi bedah buku, para akademisi menilai karya Penemu Biofar SS: Anak Desa dari Rp70 Ribu Mendunia tidak sekadar menyajikan kisah autobiografi, tetapi juga merupakan karya ilmiah populer yang memadukan pengalaman hidup, kajian akademik, serta pendekatan manajemen dan kepemimpinan.
Buku tersebut mengisahkan perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan, seorang anak yatim dari desa terpencil yang merantau hanya dengan bekal Rp70 ribu.
Di tengah keterbatasan ekonomi, ia membiayai pendidikannya dengan berjualan roti sambil kuliah hingga akhirnya berhasil menciptakan inovasi kesehatan Biofar SS, yang kemudian mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan ilmiah yang digunakan penulis. Perjalanan hidup Ja’far dianalisis menggunakan berbagai teori, mulai dari konsep modal sosial, ketahanan diri (resilience), Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR), hingga prinsip-prinsip manajemen strategis.
Pendekatan tersebut membuat kisah inspiratif yang disajikan tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga memiliki dasar akademik yang kuat.
Selain itu, buku ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup penulis memenuhi sejumlah indikator keberhasilan, yakni mampu menghasilkan perubahan yang lebih efektif, memiliki strategi yang jelas, menawarkan solusi yang tajam terhadap persoalan, memberikan dampak luas bagi masyarakat, serta memiliki keberlanjutan dalam pengabdian.
Sebagai panduan pembelajaran, buku ini juga dilengkapi berbagai instrumen manajemen, termasuk analisis pembagian peran menggunakan metode RACI (Responsible, Accountable, Consulted, Informed). Melalui pendekatan tersebut, pembaca diajak memahami tahapan perjuangan secara sistematis, mulai dari pembentukan karakter, proses pendidikan, pengembangan inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Pesan utama yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Sebaliknya, kesuksesan sejati lahir dari perpaduan antara ilmu pengetahuan, akhlak, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Buku ini juga mengingatkan ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, sedangkan inovasi yang berlandaskan nilai kemanusiaan akan memberikan dampak yang lebih luas.
Sebagai karya akademik, buku setebal lebih dari 400 halaman ini turut diperkuat dengan sekitar 200 referensi ilmiah, mencakup literatur kesehatan masyarakat, kebijakan publik, teori kepemimpinan dan manajemen, hingga nilai-nilai keagamaan.
Kehadiran ratusan rujukan tersebut menjadikan buku ini bukan hanya bacaan inspiratif, tetapi juga referensi ilmiah yang relevan bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, dan masyarakat yang ingin memahami bagaimana ketangguhan pribadi dapat dipadukan dengan inovasi berbasis ilmu pengetahuan untuk menghasilkan perubahan nyata.
*Apresiasi Kapolri*
Peluncuran dan Bedah Buku Skala Internasional Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia secara resmi dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui sambutan yang diwakili Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. dan dibacakan langsung oleh Irjen Pol. Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutan pembukaannya, perwakilan Kapolri menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya yang dinilai mampu menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan mengabdi kepada bangsa.
“Saya sangat bangga hadir di sini mewakili Ayahanda Kapolri untuk membuka secara resmi acara Peluncuran dan Bedah Buku Skala Internasional ini. Karya Muhammad Ja’far Hasibuan membuktikan bahwa anak desa pun memiliki mimpi besar dan kemampuan luar biasa untuk mengharumkan nama bangsa,” demikian sambutan Kapolri yang dibacakan Irjen Pol. Andry Wibowo.
Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan, yang memulai langkahnya dengan bekal hanya Rp70 ribu hingga berhasil melahirkan inovasi kesehatan Biofar SS yang dikenal di tingkat internasional, merupakan contoh nyata bagaimana tekad, kerja keras, dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Menurut Kapolri, inovasi tersebut bukan hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menunjukkan bahwa riset dan inovasi anak bangsa mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.
Kapolri juga menitipkan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia agar tidak pernah ragu untuk memiliki cita-cita besar.
“Kepada seluruh pemuda Indonesia, jangan pernah takut bermimpi. Jadikan kisah ini sebagai teladan bahwa kejujuran, kerja keras, disiplin, dan kepedulian kepada sesama akan mengantarkan kita pada pencapaian yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Polri akan terus mendukung lahirnya karya-karya positif anak bangsa yang amanah dan bermanfaat bagi masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan.
Menutup sambutannya, Kapolri melalui perwakilannya secara resmi membuka rangkaian Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional tersebut.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahi, saya nyatakan Peluncuran dan Bedah Buku Skala Internasional Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia resmi dibuka. Semoga kegiatan ini membawa manfaat yang luas bagi masyarakat dan menjadi inspirasi lahirnya lebih banyak inovator muda Indonesia.”
Sambutan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam acara, sekaligus menegaskan dukungan institusi Polri terhadap pengembangan sumber daya manusia, budaya literasi, riset, dan inovasi yang lahir dari generasi muda Indonesia.
Dukungan itu juga memperkuat pesan utama buku bahwa latar belakang sederhana tidak membatasi seseorang untuk menghasilkan karya yang berdampak bagi bangsa dan dunia.
*Guru Besar FKM UI Lulusan Harvard Apresiasi Karya Ja’far, Buka Peluang Studi S3 ke Harvard*
Salah satu momen paling berkesan dalam Peluncuran dan Bedah Buku Skala Internasional tersebut datang dari Prof. Dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) sekaligus alumnus Universitas Harvard.
Di hadapan ratusan peserta, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia karya Muhammad Ja’far Hasibuan.
Menurut Prof. Adang, buku tersebut bukan sekadar kisah inspiratif, melainkan sebuah karya yang memiliki bobot akademik kuat karena mampu menggabungkan pengalaman hidup dengan pendekatan ilmiah dan teori-teori modern. Ia menyebut karya tersebut layak menjadi bahan diskusi di lingkungan akademik dan mendapat perhatian para profesor.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan capaian ilmiah Ja’far, Prof. Adang bahkan menyampaikan kesediaannya membuka peluang agar penulis melanjutkan pendidikan doktoral (S3), termasuk menjajaki kesempatan studi di Universitas Harvard.
“Semoga segala pujian yang diterima menjadi kekuatan yang lebih berharga, disertai sikap rendah hati yang tulus (tawadhu), terjaga dalam hati dan perilaku, serta senantiasa menjaga kerendahan hati di media sosial. Semoga Allah memberkahi langkahmu. Jika berkenan dan ada waktu, silakan datang kembali agar saya bisa menyampaikan hal lain serta membagikan ilmu hikmah agar adinda semakin hebat dan bermanfaat,” pesan Prof. Adang kepada Ja’far.
Tawaran tersebut disambut haru oleh Muhammad Ja’far Hasibuan. Baginya, kepercayaan dari seorang Guru Besar sekaligus lulusan Harvard menjadi motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdikan ilmu bagi masyarakat.
*Kisah Perjuangan yang Dikemas dengan Pendekatan Ilmiah*
Dalam sesi bedah buku, para narasumber juga menyoroti keunikan buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia yang tidak hanya menghadirkan kisah perjuangan seorang anak desa, tetapi juga disusun dengan pendekatan akademik yang sistematis.
Buku ini mengisahkan perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan, seorang anak yatim dari desa terpencil yang merantau hanya dengan bekal Rp70 ribu, berjualan roti untuk membiayai kuliah, hingga berhasil mengembangkan inovasi kesehatan Biofar SS yang memperoleh pengakuan di tingkat internasional.
Perjalanan tersebut dianalisis menggunakan berbagai teori ilmiah, mulai dari modal sosial (social capital), ketahanan diri (resilience), Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR), hingga prinsip-prinsip manajemen strategis. Pendekatan tersebut menjadikan buku ini tidak hanya inspiratif, tetapi juga memiliki landasan akademik yang kuat.
Penulis juga menunjukkan bahwa setiap fase perjuangannya memenuhi lima indikator keberhasilan, yakni efektif, strategis, tajam dalam menyelesaikan persoalan, berdampak luas, serta berkelanjutan. Untuk memperkuat nilai praktisnya, buku ini dilengkapi analisis manajemen menggunakan metode RACI (Responsible, Accountable, Consulted, Informed) yang menggambarkan pembagian peran dalam proses membangun inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Pesan utama buku ini menegaskan keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi. Sebaliknya, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan akhlak dan pengabdian.
Kesuksesan, menurut Ja’far, bukan hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi dari sejauh mana karya tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Sebagai karya ilmiah populer, buku setebal lebih dari 400 halaman ini juga diperkuat dengan sekitar 200 referensi ilmiah, mulai dari teori kesehatan masyarakat, kebijakan publik, ilmu manajemen, hingga nilai-nilai keagamaan.
Hal itu menjadikan buku ini tidak hanya relevan sebagai bacaan motivasi, tetapi juga sebagai referensi akademik bagi mahasiswa, peneliti, dosen, maupun praktisi yang ingin mempelajari hubungan antara inovasi, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
*Guru Besar FKM USU: Keberhasilan Ja’far adalah Kebanggaan Keluarga, Almamater, dan Indonesia*
Suasana haru juga mewarnai peluncuran buku ketika Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), menyampaikan sambutan mewakili keluarga besar Muhammad Ja’far Hasibuan sekaligus almamaternya.
Dalam sambutannya, Prof. Zulhaida mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan hidup Ja’far yang dinilai menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kisah Muhammad Ja’far Hasibuan sungguh menggetarkan hati. Bermula dari seorang anak desa yang merantau hanya bermodal Rp70 ribu, berjuang seorang diri, namun tidak pernah menyerah.
Ia membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah takdir, keterbatasan bukan penghalang, dan cita-cita yang tinggi dapat diraih melalui tekad, doa, serta kerja keras yang tidak pernah padam,” ujarnya.
Menurut Prof. Zulhaida, keberhasilan Muhammad Ja’far melahirkan inovasi Biofar SS serta menerbitkan buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi keluarga, sivitas akademika Universitas Sumatera Utara, dan bangsa Indonesia.
“Prestasi ini bukan hanya membanggakan Ja’far sebagai pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi keluarga, almamater Universitas Sumatera Utara, dan seluruh putra-putri bangsa Indonesia. Ketika karya anak bangsa mendapat perhatian hingga tingkat internasional, sesungguhnya yang ikut terangkat adalah nama Indonesia,” katanya.
Ia berharap perjalanan hidup Muhammad Ja’far dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menumbuhkan semangat belajar, menjaga integritas, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan masyarakat.
“Kami berharap kisah ini menjadi pelajaran bahwa setiap orang, dari mana pun asalnya, memiliki potensi besar apabila mau berusaha, menjaga amanah, dan tidak berhenti belajar. Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari langkah-langkah yang lebih besar lagi untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, dengan tetap menjaga sikap rendah hati,” tuturnya.
Prof. Zulhaida juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendampingi perjalanan akademik dan pengembangan inovasi Muhammad Ja’far Hasibuan, mulai dari keluarga, dosen, institusi pendidikan, hingga berbagai lembaga yang memberikan dukungan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing, mendukung, dan mendoakan perjalanan Ja’far hingga berada di titik ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, dan keberkahan kepada kita semua. Teruslah berkarya, teruslah menginspirasi, dan jadilah pribadi yang membawa manfaat bagi bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Tambahnya Dan Berberapa Tokoh Penting Bangsa Turut Hadir dan Narsum
📢 SEMINAR & TALKSHOW JEJAK INSPIRASI: PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU SKALA INTERNASIONAL
“Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”
🗓 Hari/Tanggal: Sabtu, 25 Juli 2026
⏰ Waktu: 13.00 – 16.00 WIB
📍 Lokasi Luring: Aula G, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok
👥 JUMLAH PESERTA:
✅ 500 peserta secara langsung (Luring)
✅ 1.500 peserta secara daring (Via Zoom)
🎤 PEMBICARA UTAMA (KEYNOTE SPEAKER)
Muhammad Ja’far Hasibuan
– NIM: 257032012
– Mahasiswa S2 Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU
– Penulis buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”
👥 NARASUMBER & PEMBAHAS
1. Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc. – Guru Besar FKM UI (Lulusan Universitas Harvard)
2. Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP – Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
3. Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes. – Guru Besar Gizi Masyarakat FKM USU (Sepatah Kata Perwakilan Keluarga)
4. Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng. – PLH Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora RI
5. Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. – Mewakili Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo
6. Dr. Arief Wicaksono, M.Hum. – Perwakilan Kepala Perpustakaan Nasional RI
Moderator: Humaira Anggie Nauli, S.K.M., M.K.M.
🎁 FASILITAS, PENGHARGAAN & HADIAH PESERTA
✨Peserta Luring (Hadir Langsung)
✅ Gratis sepenuhnya tanpa biaya
✅ e-Sertifikat Internasional resmi
✅ Buku cetak gratis (kuota terbatas)
✅ Seminar Kit lengkap
✅ Nasi kotak & konsumsi ringan
✅ Amplop bantuan transportasi (kuota sangat terbatas)
✅ Kesempatan berfoto & tanda tangan langsung dengan penulis dan narasumber
✅ Penghargaan Khusus: Juara 1, 2, dan 3 Peserta Terbaik mendapatkan Sertifikat Juara Terbaik serta hadiah menarik
✨ Peserta Daring (Via Zoom)
✅ Gratis sepenuhnya
✅ e-Sertifikat Internasional resmi
✅ Akses diskusi dan tanya jawab langsung
✅ Rekaman acara dapat diakses setelah kegiatan selesai
✅ Penghargaan Khusus: Juara 1, 2, dan 3 Peserta Terbaik akan dikirimkan Sertifikat Juara Terbaik dan buku secara langsung ke alamat masing-masing
– Peserta daring disarankan masuk ruangan 15 menit sebelum acara dimulai
– Registrasi peserta luring dibuka mulai pukul 12.30 WIB
– Kuota tempat duduk, nasi kotak, buku, dan amplop sangat terbatas, silakan daftar dan hadir lebih awal
Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.
PLH Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI
Latar Belakang Singkat:
Lahir di Jakarta 21 Januari 1967, berpendidikan Sarjana hingga Magister Teknik Mesin & Peralatan Industri di Technische Universiteit Delft, Belanda. Memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun di bidang pengembangan teknologi, riset, hingga kebijakan pemuda; kini menjabat sebagai Pejabat Pelaksana Harian Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora RI.
Pesan Penting:
“Saya menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI. Kisah perjuangannya dari anak desa bermodal Rp70 ribu hingga berkarya dan mendunia, patut dijadikan teladan serta panutan nyata bagi seluruh pemuda Indonesia—bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti berkarya dan membanggakan bangsa.”









