Venomena.id – Pemandangan tak lazim sekaligus memprihatinkan muncul di bantaran Kali Rawa Tembaga, tepatnya di pinggiran Jalan Kemakmuran, Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan. Sebuah toilet jongkok berdiri di tepi aliran kali yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber air baku PDAM Kota Bekasi. Ironisnya, lokasi tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari Kantor Pemerintah Kota Bekasi yang mengusung slogan “Smart City”.
Keberadaan fasilitas darurat itu diduga digunakan oleh para pekerja proyek pembangunan betonisasi bibir kali. Tanpa penutup memadai dan langsung menghadap aliran air, toilet tersebut menjadi sorotan warga karena dinilai mencederai aspek kebersihan lingkungan, bahkan berpotensi mencemari sumber air.
Siti (43), warga setempat, mengaku toilet itu sudah terlihat sejak sekitar satu pekan terakhir. Ia menduga fasilitas tersebut memang disediakan untuk kebutuhan pekerja proyek.
“Sudah ada kira-kira seminggu. Biasanya dipakai pekerja proyek. Tapi kalau dipakai warga lain atau tidak, saya kurang tahu,” ujarnya, Senin (20/4).
Meski begitu, kehadiran toilet tersebut dinilai mengganggu, baik dari sisi estetika maupun kesehatan lingkungan. Warga menilai kondisi ini tidak sejalan dengan citra kota modern yang tengah dibangun pemerintah.
“Ini kan di tengah kota, dekat kantor pemkot lagi. Harusnya jadi contoh, bukan malah seperti ini,” kata Rudi (51), warga lainnya. Ia menambahkan, selain mengganggu pemandangan, kondisi itu juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kualitas air.
Keluhan serupa disampaikan Lina (36), yang setiap hari melintasi kawasan tersebut. Ia menyebut keberadaan toilet di bantaran kali sebagai bentuk kelalaian dalam pengawasan proyek.
“Kalau dibiarkan, ini bisa jadi kebiasaan. Padahal air kali itu dipakai juga untuk kebutuhan masyarakat lewat PDAM. Harusnya ada fasilitas yang layak, bukan buang langsung ke kali,” tegasnya.
Pemerintah Kota Bekasi terkesan tutup mata untuk menertibkan sekaligus menyediakan fasilitas sanitasi yang lebih layak bagi para pekerja proyek. Selain menjaga kebersihan lingkungan, langkah itu juga dinilai penting untuk melindungi kualitas sumber air baku yang digunakan masyarakat luas.
Di tengah gencarnya kampanye Smart City, kejadian ini menjadi pengingat bahwa persoalan dasar seperti sanitasi dan pengelolaan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan di Kota Bekasi.









