Venomena.id – Penetapan tiga mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tersangka dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai belum menjadi akhir dari pengungkapan kasus. Sebaliknya, langkah Kejaksaan Agung tersebut dianggap baru membuka lapisan awal dari dugaan penyimpangan dalam program bernilai Rp353 triliun itu.
Mantan Kepala BGN DH, mantan Wakil Kepala BGN Bidang Operasional SS, serta mantan Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan LP resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan adanya dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam penunjukan yayasan mitra hingga pengadaan barang dan jasa.
Penyidikan mengungkap adanya yayasan afiliasi yang diduga dijadikan kendaraan untuk memperoleh keuntungan dari program MBG. Yayasan tersebut tetap dapat menjadi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meski tidak memenuhi persyaratan, karena diduga memperoleh perlakuan khusus dalam proses verifikasi.
Selain itu, penyidik menemukan indikasi pengaturan pengadaan barang dan jasa melalui penyusunan kebutuhan yang tidak sesuai kondisi lapangan. Akibatnya muncul dugaan mark up pada sejumlah pengadaan strategis seperti motor listrik, tablet, sepatu, hingga televisi berukuran besar.
Melihat luasnya cakupan program serta besarnya nilai anggaran yang dikelola, banyak pihak menilai mustahil jika dugaan penyimpangan hanya melibatkan segelintir orang. Sebab, proses penunjukan yayasan, verifikasi mitra, pencairan insentif, penyusunan pengadaan, hingga distribusi barang melibatkan banyak pihak dan jenjang birokrasi.
Karena itu, publik kini menunggu keberlanjutan penyidikan Kejaksaan Agung untuk mengungkap siapa saja pihak lain yang diduga turut berperan, baik sebagai pengambil keputusan, pelaksana teknis, penerima keuntungan, maupun pihak yang menikmati aliran dana dari program tersebut.
Kasus MBG kini menjadi salah satu perkara korupsi yang paling menyita perhatian masyarakat karena menyangkut program yang sejak awal diklaim bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Di tengah harapan besar terhadap program tersebut, munculnya dugaan korupsi justru memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan dan akuntabilitas penggunaan uang negara.
Kini sorotan publik tertuju pada langkah berikutnya dari Kejaksaan Agung. Apakah penyidikan akan berhenti pada tiga tersangka, atau justru berkembang menjadi pengungkapan jaringan korupsi yang lebih luas. Yang jelas, masyarakat menunggu seluruh pihak yang terbukti terlibat diproses tanpa pandang bulu agar kepercayaan terhadap program strategis nasional tidak semakin tergerus.









