Venomena.id – Ancaman bencana mengintai ratusan siswa MTsN 1 Kota Bekasi. Tebing di bantaran Kali Bekasi yang berada tepat di belakang kompleks sekolah terus mengalami pengikisan dan kini hanya menyisakan jarak sekitar satu meter dari bangunan musala madrasah. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran besar karena sewaktu-waktu longsor susulan dapat terjadi dan membahayakan aktivitas belajar mengajar.
MTsN 1 Kota Bekasi yang berlokasi di Jalan KH Agus Salim No. 179, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, berbatasan langsung dengan aliran Kali Bekasi sepanjang kurang lebih 100 meter. Menurut keterangan warga, longsor telah terjadi sejak 2005 dan secara bertahap menggerus daratan hingga sekitar 25 meter dari bibir sungai semula.
Pengikisan paling parah terjadi setiap musim hujan. Bukan hanya saat debit air Kali Bekasi meningkat, tetapi juga ketika hujan deras mengguyur sehingga struktur tanah menjadi labil dan mudah ambles. Saat ini, bibir longsoran sudah berada tepat di belakang musala sekolah yang setiap hari digunakan para siswa untuk salat berjamaah dan kegiatan keagamaan.
Ketua RT setempat mengatakan kondisi tersebut sudah berkali-kali dilaporkan dan ditinjau oleh berbagai pihak. Namun hingga kini belum ada penanganan fisik yang dilakukan.
“Kalau hujan deras itu yang paling dikhawatirkan. Longsor terus bertambah. Sudah beberapa kali dicek, terutama setiap kali terjadi longsor, tapi hanya sebatas survei. Sampai sekarang belum ada tindakan,” ujarnya, Selasa (14/7).
Ia menjelaskan, perubahan kontur tanah sangat terlihat dari posisi pepohonan yang dahulu berada di pinggir sungai, namun kini sudah berada jauh ke tengah akibat tanah terus terkikis.
Kekhawatiran serupa disampaikan guru MTsN 1 Kota Bekasi, Sukra. Menurutnya, lokasi longsor berada persis di belakang musala yang setiap hari dipenuhi siswa untuk melaksanakan salat Zuhur, Asar, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
“Kalau melihat kondisinya sekarang sangat membahayakan. Longsor sudah mendekati tembok madrasah. Kami berharap pemerintah segera membangun turap atau penahan tebing agar keselamatan anak-anak benar-benar terjamin,” katanya.
Ia mengaku setiap turun hujan selalu dihantui rasa cemas. Jika longsor kembali terjadi dengan skala lebih besar, bukan tidak mungkin bangunan sekolah ikut terdampak.
“Kami sangat khawatir. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Kecemasan juga dirasakan para orang tua murid. Salah seorang wali murid, Eka Selana, mengaku prihatin karena kondisi longsor sudah berlangsung cukup lama, tetapi belum juga diperbaiki.
“Jalannya tinggal setapak. Saya takut longsornya terus merembet sampai ke bangunan sekolah. Kalau nanti benar-benar ambruk, siapa yang bertanggung jawab? Harapan kami pemerintah segera memperbaikinya sebelum ada korban,” tuturnya.
Suara yang sama datang dari para siswa. Rizqana Jelati, siswi kelas VIII MTsN 1 Kota Bekasi, mengaku dirinya dan teman-temannya sering melihat kondisi longsor di belakang musala sekolah.
“Longsornya sudah lama. Semoga pemerintah bisa melihat kondisi ini dan segera membantu memperbaikinya supaya kami bisa belajar dan beribadah dengan aman,” ucap Rizqana.
Melihat kondisi tersebut, pembangunan turap atau penguatan tebing dinilai menjadi kebutuhan yang mendesak. Warga, pihak sekolah, orang tua, hingga para siswa berharap pemerintah tidak lagi sekadar melakukan survei, melainkan segera mengambil langkah nyata.
Sebab jika penanganan terus tertunda, ancaman longsor bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, tetapi berpotensi berubah menjadi bencana yang mengancam keselamatan ratusan siswa MTsN 1 Kota Bekasi. Penanganan setelah jatuh korban tentu akan jauh lebih mahal dibanding mencegahnya sejak sekarang.









