Venomena.id – Musim liburan sekolah selalu menghadirkan berbagai cara bagi warga untuk menikmati waktu luang. Di tengah gempuran gawai dan permainan digital, satu tradisi lama ternyata masih mampu bertahan dan menjadi magnet bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tradisi itu adalah adu layangan.
Sabtu (20/6) sore, hamparan lapangan tanah serapan seluas lebih dari tiga hektare di depan kawasan Pemakaman Poncol, Jalan RA Kartini, Kota Bekasi, berubah menjadi lautan warna-warni layangan yang menari di langit. Lapangan yang berada di tepian Kali Malang itu dipenuhi ratusan warga yang datang membawa layangan berbagai bentuk dan ukuran.
Meski sebagian besar area lapangan telah ditumbuhi rumput liar yang cukup tinggi, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para pemain. Mereka memilih berkumpul di sisi-sisi lapangan yang masih terbuka untuk menerbangkan sekaligus mengadu layangan.
Suasana semakin meriah ketika puluhan layangan saling berhadapan di udara. Sorak-sorai terdengar setiap kali satu layangan berhasil memutus benang lawannya. Mereka yang menang bersorak gembira, sementara yang kalah hanya bisa tersenyum masam sambil menggulung sisa benang dan menatap layangan yang perlahan menjauh terbawa angin.
Bagi sebagian warga, adu layangan bukan sekadar permainan. Aktivitas ini menjadi ajang berkumpul, bersosialisasi, sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Hadi (10 tahun), salah seorang pemain cilik, mengaku hampir setiap hari datang ke lokasi tersebut selama masa liburan sekolah. Dari rumahnya di kawasan Kayuringin, ia rela mengayuh sepeda bersama teman-temannya demi menikmati serunya adu layangan.
“Mumpung lagi libur sekolah. Di sini seru karena lapangannya luas dan banyak lawan buat adu layangan. Saya naik sepeda ke sini sama teman-teman,” ujar Hadi sembari sesekali memperhatikan layangannya yang melayang tinggi.
Di lapangan yang sama, Mustafa (36 tahun) terlihat sibuk mempersiapkan gulungan benang gelasan miliknya. Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tak kalah dibanding anak-anak yang memenuhi lokasi.
Menurut Mustafa, adu layangan sudah menjadi hobi yang ia tekuni sejak kecil dan hingga kini masih rutin dilakukan setiap akhir pekan.
“Kalau Sabtu dan Minggu libur saya memang sering ke sini. Minggu lalu saya kalah sampai empat layangan putus. Sekarang saya coba pakai benang gelasan jenis baru. Mudah-mudahan hari ini lebih banyak menang daripada kalah,” katanya sambil tertawa.
Pemandangan menarik juga terlihat dari kehadiran para pemain senior. Salah satunya Suryoto (58 tahun), yang menjadi perhatian karena penampilannya yang khas. Mengenakan topi, kacamata hitam, dan sebatang rokok yang terselip di sudut bibirnya, ia tampak lincah memainkan benang layangan.
Gerakan tangannya naik turun mengikuti arah angin. Sesekali ia menarik kuat benang layangan, lalu mengulurnya perlahan ketika sedang beradu dengan lawan di udara.
Bagi Suryoto, bermain layangan adalah hiburan sederhana yang selalu berhasil membuatnya merasa muda kembali.
“Ini salah satu kegiatan yang tidak dimarahi istri saya. Kalau mancing biasanya kena omel. Main layangan beda, karena memang hobi dari kecil. Dari kemarin saya baru kalah tiga kali layangan putus. Kalau kemenangan, mungkin sudah lebih dari dua puluh layangan lawan yang berhasil saya putuskan,” ungkapnya sembari tersenyum bangga.
Menurut sejumlah warga sekitar, tradisi adu layangan di kawasan Poncol bukanlah hal baru. Aktivitas tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat ketika musim kemarau tiba.
Bahkan, tidak sedikit warga yang sengaja datang dari berbagai wilayah di Kota Bekasi hanya untuk merasakan sensasi adu layangan di lokasi tersebut. Angin yang relatif stabil serta area terbuka yang luas membuat lapangan ini menjadi salah satu titik favorit para penggemar layangan.
Menjelang sore, jumlah pemain terus bertambah. Selepas waktu Ashar sekitar pukul 15.30 WIB, lapangan mulai dipadati warga. Sebagian datang bersama keluarga, sebagian lagi bergerombol bersama teman-teman membawa sepeda, motor, hingga mobil yang diparkir di tepi jalan.
Tak hanya pemain, banyak warga yang memilih menjadi penonton. Mereka duduk di pinggir lapangan sambil menikmati pertarungan layangan di langit yang berlangsung silih berganti hingga menjelang matahari terbenam.
Bagi anak-anak, adu layangan menjadi permainan yang murah dan menyenangkan. Namun bagi para pemain dewasa, permainan ini juga menghadirkan nostalgia masa kecil yang sulit tergantikan oleh perkembangan zaman.
Ketika langit mulai berubah jingga dan azan Magrib berkumandang, satu per satu pemain mulai menggulung benang dan bersiap pulang. Meski ada yang pulang dengan kemenangan dan ada pula yang kehilangan beberapa layangan, senyum tetap terlihat di wajah mereka.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi yang terus berkembang, lapangan sederhana di tepi Kali Malang itu kembali membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal. Cukup selembar layangan, segulung benang, dan hembusan angin sore, ratusan warga dapat menikmati liburan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.
Musim liburan pun baru dimulai. Dan bagi para penggemar layangan, langit Poncol masih akan ramai oleh pertarungan warna-warni yang menjadi bagian dari tradisi yang tak pernah lekang oleh waktu.









