V News

Komite dan Orang Tua Siswa Unity School Anggap Kasus Dugaan Bullying Hoaks, Tak Sesuai Fakta

114
×

Komite dan Orang Tua Siswa Unity School Anggap Kasus Dugaan Bullying Hoaks, Tak Sesuai Fakta

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Polemik dugaan bullying di Unity School Galaksi, Bekasi Selatan, memunculkan reaksi dari komite sekolah dan sejumlah orang tua siswa. Mereka menilai informasi yang berkembang di media sosial tidak menggambarkan hasil investigasi yang telah dilakukan pihak sekolah.

Pengurus Komite Sekolah berinisial N mengatakan, setelah laporan dugaan bullying diterima, sekolah langsung melakukan penelusuran melalui Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan atau TPPK.

“Hasil investigasi sekolah menyatakan tidak ada bullying. Karena itu kami mempertanyakan mengapa persoalan yang sudah ditangani kemudian kembali menjadi besar di luar sekolah,” ujar N.

Menurut N, persoalan tersebut berawal dari laporan seorang wali murid pada 16 Juli 2026.

Laporan itu menyebut anaknya mengalami tindakan yang diduga bullying. Salah satu persoalan yang dipersoalkan berkaitan dengan botol minum milik anak.

Namun, setelah rekaman CCTV diperiksa, pihak sekolah menyimpulkan tidak ada tindakan membanting atau menyerang sebagaimana dugaan awal.

“Jadi berdasarkan CCTV, tidak seperti yang dibayangkan ada anak yang membanting botol anak lain. Itu yang kami ketahui dari hasil investigasi sekolah,” katanya.

Namun, menurut N, perkembangan persoalan justru berlanjut ke Dinas Pendidikan dan kemudian ke DPRD Kota Bekasi.

 

Orang Tua Angkat Suara

Sejumlah orang tua siswa kemudian menyampaikan keberatan karena isu bullying tersebut dianggap telah membentuk persepsi bahwa Unity School merupakan lingkungan yang tidak aman bagi anak.

Salah seorang orang tua siswa, Puput, bahkan mengaku memiliki pengalaman pribadi dengan persoalan serupa beberapa tahun sebelumnya dengan pelapor orang tua anak yang sama.

Ia mengatakan, anaknya pernah dituduh melakukan tindakan yang membahayakan siswa lain ketika masih kelas 1. Namun setelah diklarifikasi kepada guru dan pihak sekolah, tuduhan tersebut, menurut Puput, tidak terbukti.

Baja juga:  Polres Metro Bekasi Kota Tetapkan Pelaku Pelecehan Berkedok Pengobatan Alternatif Jadi Tersangka

“Kalau ada masalah anak di sekolah, menurut saya orang tua bertemu dengan orang tua. Kemudian diselesaikan bersama guru dan kepala sekolah. Kalau anak memang salah, kita ajarkan meminta maaf dan selesai,” ujar Puput.

Ia mengatakan persoalan pada anak-anak sebenarnya dapat diselesaikan dengan pendekatan yang lebih sederhana.

Menurut Puput, dirinya tidak menerima ketika anak-anak justru mendapat dampak psikologis akibat konflik orang dewasa.

Ia mengaku pernah melihat anaknya mengalami tekanan setelah muncul pembicaraan mengenai dirinya di antara orang tua siswa.

“Anak saya sampai dikucilkan. Ada orang tua yang menyampaikan kepada anaknya supaya tidak bermain dengan anak saya karena dianggap bermasalah. Bahkan anak saya sempat mengalami tekanan berat bahkan sempat hendak melompat dari lantai 2 rumah,” katanya.

Puput mengaku karena pengalaman tersebut dirinya merasa perlu bersuara ketika kembali muncul tuduhan bullying terhadap anak lain di sekolah.

Ia menegaskan, berdasarkan informasi dan penelusuran yang ia ketahui, anak yang disebut sebagai korban maupun anak yang dituduh sebagai pelaku sebenarnya tetap dapat berinteraksi sebagai teman.

“Anaknya baik. Mereka sebenarnya bisa bermain lagi. Yang menjadi persoalan justru orang tuanya,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan Puput berdasarkan pengalaman pribadinya dan tidak serta-merta menjadi kesimpulan resmi sekolah mengenai pihak yang terlibat.

 

Orang Tua Resah Sekolah Disebut Akan Ditutup

Wali murid lainnya, Angie, mengatakan persoalan menjadi semakin mengkhawatirkan setelah muncul informasi di media sosial mengenai kemungkinan pencabutan izin sekolah.

Angie mengaku pertama kali mengetahui kabar tersebut dari anaknya.

“Anak saya tahu dari media sosial dan dari temannya. Dia kemudian bertanya apakah sekolah kami akan ditutup,” kata Angie.

Baja juga:  Kali Bekasi Tercemar Lagi, Netizen: Tercemar Mulu

Menurut dia, setelah memperoleh informasi dari pihak sekolah dan orang tua lainnya, dirinya justru mengetahui bahwa hasil investigasi sekolah menyatakan tidak ditemukan unsur bullying.

“Saya pikir masalahnya besar sekali. Ternyata setelah dicari tahu, tidak seperti yang beredar,” ujarnya.

Angie mempertanyakan mengapa persoalan anak-anak sampai berkembang menjadi isu pencabutan izin sekolah.

“Urusan anak-anak sampai harus ke DPRD dan kemudian muncul narasi sekolah akan ditutup. Menurut saya itu tidak objektif dan justru membuat anak-anak lain ikut resah,” katanya.

Ia berharap persoalan tersebut tidak lagi dipelintir menjadi isu yang merugikan seluruh siswa.

 

Komite Minta Fakta Dikedepankan

N mengatakan komite sekolah tidak bermaksud membela salah satu pihak.

Menurutnya, yang ingin dipastikan adalah persoalan tersebut tidak dibangun berdasarkan asumsi.

“Kami hanya ingin fakta yang disampaikan. Kalau memang ada bullying, tentu sekolah harus bertindak. Tetapi kalau hasil investigasi menyatakan tidak ada bullying, itu juga harus dihormati,” katanya.

N juga menilai orang tua siswa berhak mendapatkan penjelasan yang utuh agar tidak muncul keresahan.

Terlebih, Unity School menaungi siswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Menurutnya, ketika muncul narasi sekolah akan ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua siswa yang terlibat dalam persoalan awal, tetapi seluruh siswa dan orang tua.

“Anak-anak tidak tahu persoalan sebenarnya. Mereka hanya membaca sekolah mau ditutup. Itu yang membuat kami keberatan,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak Unity School telah menyampaikan keterangan resmi bahwa TPPK telah melakukan investigasi dan tidak menemukan unsur perundungan.

Sekolah juga menyatakan kedua pihak telah dimediasi dan persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Para orang tua berharap polemik tersebut tidak kembali melebar dan seluruh pihak mengutamakan kepentingan serta rasa aman anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *