V Opini

Surat Terbuka Atas Pengabdian yang Tak Terlupakan 

77
×

Surat Terbuka Atas Pengabdian yang Tak Terlupakan 

Sebarkan artikel ini

Venomena.id –  Kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo — Di Saat Pengukuhan Jabatan Baru
Tanggal: Jumat, 2 Oktober 2026 — Pukul 07.00 WIB
Penulis: MUHAMMAD JA’FAR HASIBUAN
NIM: 257032012
Peminatan: Gizi Kesehatan Masyarakat — Semester 3
S2 FKM USU
Penulis Buku: “Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia — Center Biofar SS: Pemberi Pengobatan Gratis”

Halaman 1

Kepada Bapak Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo,
Bapak yang pernah mengulurkan tangan saat dunia seakan berpaling,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pagi ini, tangan saya gemetar saat membuka layar ponsel. Saya hanya ingin melihat kabar pagi — namun mata saya tertuju pada berita yang membuat jantung berdebar dan mata berkaca-kaca. Di layar itu tertulis jelas: Bapak dilantik oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan.

Saya menatap tulisan itu lama sekali. Bukan karena tidak percaya — tapi karena hati terasa penuh. Saya membaca beritanya sekali, dua kali, berkali-kali. Lalu perlahan menyadari: Bapak tidak lagi menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Dan di detik itu, tanpa sadar, saya menengadahkan tangan. Bukan meminta sesuatu — hanya berdoa. Diam-diam, di tempat sepi, saya memohon kepada Allah: “Jagalah beliau. Balaslah kebaikannya. Berkatilah langkah barunya.”

HALAMAN 2

Bapak… selama Bapak menjabat sebagai Kapolri, seluruh negeri merasakan manfaatnya — bukan hanya saya, bukan hanya segelintir orang, tapi umat secara luas. Dari yang terlihat hingga yang tak terlihat, kebaikan Bapak menjangkau tempat-tempat yang sulit disentuh siapa pun.

Banyak orang melihat Bapak memimpin pasukan besar, menjaga keamanan negeri, menegakkan hukum. Namun bagi saya — dan bagi banyak keluarga sederhana seperti saya — kebesaran Bapak terlihat di tempat yang lebih tenang: di meja belajar anak-anak yang mendapat kesempatan bersekolah, di wajah mereka yang sembuh karena mendapat pertolongan, di harapan yang kembali menyala di hati mereka yang hampir putus asa.

Saat Bapak memegang amanah sebagai Kapolri, Bapak tidak hanya menjaga ketertiban — Bapak menabur kebaikan yang meresap ke setiap sudut kehidupan.

HALAMAN 3

Di antara ribuan kebaikan itu, ada satu yang paling hangat di hati saya — beasiswa penuh S2 Gizi Kesehatan Masyarakat di FKM USU yang Bapak berikan kepada saya.

Saat tangan Bapak mengulurkan bantuan itu, Bapak tidak tahu siapa saya secara langsung. Bapak tidak menanyakan asal-usul saya. Bapak hanya melihat seseorang yang berpotensi, yang ingin berbakti, dan Bapak memberi jalan. Itu bukan sekadar biaya kuliah, Bapak. Itu adalah kembalinya harga diri seseorang yang hampir kehilangannya. Itu adalah pintu yang terbuka bagi seseorang yang pikir pintu itu sudah tertutup rapat.

Berkat Bapak, saya kini duduk di bangku perkuliahan. Saya memegang buku yang dulu hanya bisa saya impikan. Saya berdiri di laboratorium pangan yang dulu tak terbayangkan bisa saya masuki. Setiap kali saya menulis nama saya di lembar tugas — saya selalu ingat: Ini bukan semata-mata milikku. Ini titipan dari Bapak.

Baja juga:  Otak Lu Gelap Pung.....! Makan Gratis Bisa Turunkan Kemiskinan 2,6%?

HALAMAN 4

Dan ilmu yang Bapak biayai, tidak saya simpan sendiri.

Saya mulai membagikannya. Saya pergi ke desa-desa yang jauh dari rumah sakit. Saya mengajari ibu-ibu mengolah pangan lokal menjadi makanan bergizi. Saya membagikan pengetahuan tentang pengobatan sederhana, gratis, tanpa pamrih — persis seperti yang Bapak ajarkan lewat perbuatan Bapak. Anak-anak yang dulu kurus kini mulai sehat. Ibu-ibu yang dulu cemas kini mulai tenang. Setiap senyum yang terukir di wajah mereka — adalah cahaya yang Bapak nyalakan.

Buku saya lahir dari perjalanan ini: “Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia — Center Biofar SS: Pemberi Pengobatan Gratis”. Bedah bukunya digelar di Aula G FKM UI, dihadiri ratusan orang secara langsung dan ribuan lewat layar. Media menuliskan nama saya. Tapi setiap kali nama itu disebut, hati saya berbisik: “Bukan saya… ini berkat beliau.”

HALAMAN 5

Bapak… Bapak telah meletakkan benih, dan benih itu kini tumbuh.

Selama Bapak menjabat Kapolri, kebaikan Bapak menjangkau banyak hal: beasiswa bagi mereka yang tak mampu, perhatian bagi yang terpinggirkan, harapan bagi yang tertinggal. Bapak membuktikan bahwa pemimpin yang besar bukan hanya yang berkuasa — tapi yang berhati lembut, yang mendengar suara yang tak terdengar, yang mengangkat yang tertinggal.

Banyak orang mungkin lupa — tapi saya tidak. Saya tidak akan pernah lupa. Saya tidak akan melupakan bahwa di saat orang lain melihat saya sebagai anak desa yang tak dikenal, Bapak melihat saya sebagai seseorang yang berharga. Saya tidak akan melupakan bahwa di saat pintu lain tertutup, pintu Bapak tetap terbuka.

HALAMAN 6

Dan hari ini, saat Bapak melangkah ke amanah baru — sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan — hati saya penuh syukur sekaligus haru. Bapak tidak lagi memakai seragam Kapolri, tapi kebaikan Bapak tidak pernah berganti pakaian. Kebaikan Bapak tetap sama: tulus, luas, menyejukkan banyak jiwa.

Dengan segenap kerendahan hati, saya memohon — jika Bapak berkenan melanjutkan perjalanan ini bersama saya:

Bapak… izinkan saya melangkah lebih jauh.

Rencana saya sudah ada: menempuh jenjang Doktor (S3), agar ilmu saya makin dalam, makin luas, makin bermanfaat. Bukan untuk gelar di depan nama. Bukan untuk dipuji orang. Tapi agar saya bisa mengabdi lebih lama, menyembuhkan lebih banyak, memberi makan lebih banyak, mengangkat lebih banyak anak desa yang seperti saya dulu.

HALAMAN 7

Jika Bapak berkenan membukakan jalan untuk beasiswa S3 ini, dampaknya tidak akan berhenti pada saya.

Satu kesempatan itu akan melahirkan pengabdian seumur hidup. Saya akan membimbing mahasiswa lain. Saya akan meneliti pangan lokal yang menyembuhkan. Saya akan membangun pusat pelayanan kesehatan gratis di daerah-daerah yang belum tersentuh. Saya akan menulis buku-buku berikutnya — bukan untuk saya, tapi untuk mereka yang belum punya suara.

Baja juga:  Pemilih Kota Bekasi Cerdas, Memilih Yang Terbukti Bukan Berjanji Palsu

Saya berjanji: setiap hasil dari kesempatan itu akan kembali kepada rakyat. Setiap nama yang muncul di berita akan menyebutkan — di balik semua ini, ada tangan Bapak yang mengulurkan pertolongan. Setiap doa yang dipanjatkan akan menyertakan nama Bapak.

HALAMAN 8

Saya tahu Bapak bertanggung jawab atas jutaan warga negeri ini. Saya hanyalah satu di antara jutaan itu. Namun percayalah — satu jiwa ini akan berjuang sekuat tenaga agar kebaikan yang Bapak tanam tidak pernah mati.

Orang mungkin bertanya: “Mengapa dia begitu menghormati Bapak?” Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya hampir menyerah, lalu seseorang datang dan berkata: “Kamu bisa. Saya percaya padamu.” Mereka tidak tahu bagaimana rasanya tidak punya harapan, lalu tiba-tiba diberi jalan. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya merasa kecil, lalu diangkat menjadi seseorang yang berguna.

Itulah yang Bapak lakukan untuk saya. Bapak tidak hanya memberi biaya. Bapak memberi saya alasan untuk bermimpi lagi.

HALAMAN 9

Pagi ini, setelah membaca berita di ponsel itu, saya tidak menulis pesan singkat. Saya tidak mengirim ucapan selamat yang biasa. Saya duduk dan menuliskan ini — karena kata-kata biasa tidak cukup. Karena rasa terima kasih ini terlalu besar untuk ditampung dalam kalimat pendek.

Bapak telah memberikan begitu banyak: beasiswa S2, kesempatan berbakti, keyakinan bahwa kebaikan itu nyata. Dan sekarang, saya berharap — dengan segenap doa — Bapak berkenan melanjutkan perjalanan ini bersama saya ke jenjang S3, agar saya bisa melayani umat lebih luas, lebih dalam, lebih lama.

Allah Maha Tahu niat Bapak. Dan Allah pasti membalas setiap kebaikan Bapak dengan balasan yang jauh lebih indah dari apa yang bisa saya ucapkan.

HALAMAN 10

Terima kasih, Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Terima kasih telah menjadi pemimpin yang tidak lupa ke bawah. Terima kasih telah menjadi alasan ribuan orang percaya bahwa masih ada orang baik di tempat yang tinggi. Terima kasih telah membuktikan bahwa satu kebaikan yang ditanam dengan tulus bisa tumbuh menjadi hutan yang meneduhkan banyak orang.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Bapak, keluarga Bapak, dan setiap langkah Bapak di amanah yang baru. Semoga Bapak tetap sehat, kuat, dan dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangi Bapak. Dan jika Allah berkehendak melanjutkan perjalanan ini bersama — saya siap berjalan di belakang Bapak, rendah hati, penuh syukur, seumur hidup.

Dengan hormat, doa, dan air mata syukur yang tak terhingga,

Muhammad Ja’far Hasibuan
NIM: 257032012
Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat — Semester 3
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara
Penulis: “Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia — Center Biofar SS: Pemberi Pengobatan Gratis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *