Venomena.id – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menargetkan tingkat penyerapan peserta pelatihan vokasi ke dunia kerja meningkat dari sekitar 40 persen menjadi 70 persen. Target tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memastikan program pelatihan tidak berhenti pada pemberian keterampilan dan sertifikat, tetapi benar-benar membuka jalan bagi peserta memperoleh pekerjaan atau membangun usaha mandiri.
Persoalan penyerapan lulusan itu mengemuka dalam kegiatan orientasi peserta Pelatihan Vokasi Nasional Batch 5 Tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jumat (16/10). Program tersebut diikuti 14.688 peserta yang menjalani pelatihan di berbagai balai pelatihan vokasi di seluruh Indonesia.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, berdasarkan penelusuran sementara, tingkat peserta pelatihan yang langsung bekerja setelah menyelesaikan program masih berada di kisaran 40 persen. Pemerintah berupaya meningkatkan capaian tersebut melalui penguatan kerja sama dengan industri, pembaruan kurikulum, serta perluasan akses informasi dan kesempatan pelatihan.
“Sekarang mungkin baru sampai 40 persen yang dilatih langsung bisa bekerja. Kita akan melakukan penelusuran lagi. Target kita sampai 70 persen, yang dilatih kemudian sesudah dilatih bisa langsung diserap di industri,” kata Yassierli.
Menurut dia, pelatihan vokasi merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk membantu mengurangi pengangguran. Namun, besarnya dampak terhadap penyerapan tenaga kerja akan bergantung pada jumlah peserta yang dilatih, kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan perusahaan, serta kemampuan pemerintah mempertemukan lulusan dengan peluang kerja.
Kemnaker, lanjut Yassierli, memiliki target pelatihan sekitar 340.000 hingga 350.000 orang. Karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan keterhubungan antara lembaga pelatihan dan dunia usaha agar lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dapat segera masuk ke pasar kerja.
Ada tiga langkah yang disiapkan untuk mengejar target tersebut. Pertama, memperkuat kolaborasi dengan industri, termasuk perusahaan di kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, dan proyek strategis nasional. Kedua, memperbarui kurikulum pelatihan agar sesuai dengan perkembangan kebutuhan tenaga kerja. Ketiga, memperluas penyebaran informasi agar masyarakat di berbagai daerah memperoleh kesempatan mengikuti program tersebut.
137.496 peserta telah menyelesaikan empat batch
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker, Darmawansyah, S.T., M.Si., menjelaskan bahwa Pelatihan Vokasi Nasional merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memperluas akses peningkatan keterampilan bagi angkatan kerja Indonesia.
Program itu diselenggarakan melalui jaringan balai pelatihan milik pemerintah pusat dan daerah, serta skema pelatihan yang melibatkan masyarakat dan industri.
Darmawansyah menyebutkan, hingga pelaksanaan Batch 4, sebanyak 137.496 orang telah menyelesaikan pelatihan vokasi. Sementara itu, pada Batch 5 Tahun 2026, terdapat 14.688 peserta yang mengikuti pelatihan di berbagai balai di seluruh Indonesia.
Meski jumlah peserta yang telah menyelesaikan pelatihan terus bertambah, Kemnaker tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program. Pemerintah juga sedang melakukan penelusuran terhadap alumni untuk mengetahui sejauh mana pelatihan tersebut berpengaruh terhadap peluang kerja mereka.
Darmawansyah mengatakan, penelusuran itu diharapkan menghasilkan gambaran tingkat kebekerjaan alumni dari Batch 1 hingga Batch 4. Data tersebut ditargetkan mulai diperoleh pada akhir Oktober 2026. Pada awal 2027, penelusuran kembali direncanakan untuk melihat perkembangan kebekerjaan alumni pelatihan vokasi sepanjang 2026 secara lebih menyeluruh.
Langkah tersebut diperlukan agar pemerintah memiliki dasar evaluasi untuk mengetahui efektivitas pelatihan sekaligus menentukan bagian yang perlu diperbaiki.
Menurut Darmawansyah, penyelenggaraan pelatihan didukung kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, instruktur bersertifikat, fasilitas praktik yang memadai, serta penjaminan mutu melalui sertifikasi kompetensi.
Kemnaker juga mengembangkan pendekatan real world training agar peserta tidak hanya menguasai teori, tetapi mendapatkan pengalaman praktik yang berkaitan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan mempunyai kompetensi yang lebih sesuai dengan tuntutan pekerjaan.
Skill Hub dan Karir Hub diperkuat
Selain memperbaiki materi dan metode pelatihan, Kemnaker mengintegrasikan layanan ketenagakerjaan melalui platform Siap Kerja.
Darmawansyah menjelaskan, digitalisasi tersebut mencakup Skill Hub untuk layanan pelatihan dan Karir Hub untuk layanan terkait pekerjaan. Integrasi ini diharapkan memudahkan masyarakat mengakses informasi pelatihan sekaligus memperoleh informasi mengenai peluang kerja.
Keterhubungan antara pelatihan dan informasi pekerjaan menjadi penting karena keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah orang yang mengikuti pelatihan. Pemerintah juga perlu memastikan keterampilan yang diberikan memiliki relevansi dengan kebutuhan perusahaan maupun peluang berwirausaha.
Kepada peserta Batch 5, Darmawansyah meminta agar kesempatan tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk menguasai keterampilan yang dapat digunakan dalam mencari pekerjaan atau meningkatkan pendapatan melalui usaha mandiri.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan vokasi nasional, termasuk pengelola balai, instruktur, dan pihak-pihak yang mendukung pelaksanaan program.
Menaker ingatkan peserta soal rasio penerimaan
Dalam arahannya, Yassierli mengingatkan peserta bahwa kesempatan mengikuti pelatihan vokasi bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia menyebut rasio penerimaan peserta sekitar satu banding lima. Artinya, ketika seseorang memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan, masih ada sekitar empat orang lainnya yang belum tentu mendapatkan kesempatan serupa.
Karena itu, peserta diminta tidak menjadikan pelatihan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu, menunggu pekerjaan, atau memperoleh uang saku.
Pemerintah mengharapkan peserta mampu menyelesaikan pelatihan dengan keterampilan spesifik dan sertifikat kompetensi yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha.
Yassierli juga menekankan pentingnya interaksi antara peserta dan instruktur. Peserta diminta memperbanyak praktik, mendengarkan arahan, meminta umpan balik, dan memperbaiki hasil pekerjaan sampai memenuhi standar yang diharapkan.
Menurut dia, instruktur yang memiliki sertifikat dan pengalaman kerja dapat menjadi sumber pembelajaran penting. Karena itu, peserta perlu aktif bertanya dan menunjukkan kesungguhan selama mengikuti pelatihan.
Menaker juga mengingatkan pentingnya pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Peserta tidak harus memiliki kemampuan awal yang sama. Lulusan SMA, SMK, maupun masyarakat dari latar belakang pendidikan lain tetap dapat mengembangkan kompetensi selama bersedia belajar.
“Orang-orang yang sukses adalah orang yang mau belajar sesuatu yang baru, bukan orang-orang yang takut salah atau merasa dirinya sudah hebat,” demikian pesan yang disampaikan Yassierli dalam arahannya.
Ia meminta peserta terbuka terhadap kritik dan masukan. Kesalahan dalam proses belajar, menurutnya, seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kemampuan, bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Yassierli juga menekankan bahwa pelatihan vokasi berbeda dengan pembelajaran yang lebih banyak berfokus pada teori. Dalam pelatihan vokasi, penguasaan keterampilan harus dibuktikan melalui praktik langsung.
Peserta diminta tidak bekerja sekadar memenuhi kewajiban. Mereka perlu terus mengevaluasi hasil praktik, menanyakan bagian yang masih kurang, dan mencari cara agar pekerjaan berikutnya menjadi lebih baik.
Karier tidak selalu dimulai dari perusahaan impian
Menaker turut mengingatkan bahwa perjalanan karier setiap orang tidak selalu berlangsung lurus. Peserta mungkin tidak langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang diinginkan. Namun, pengalaman kerja pertama dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan keterampilan dan membuka kesempatan berikutnya.
Karena itu, peserta didorong untuk memandang dunia kerja sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan pengalaman, kedisiplinan, dan kemauan terus belajar.
Yassierli juga menyinggung pengalaman alumni pelatihan yang berhasil meningkatkan kemampuan hingga mengikuti kompetisi keterampilan tingkat nasional dan Asia Tenggara. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan kompetensi lebih tinggi, selama peserta terus berlatih dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
Kemnaker berharap pengalaman alumni yang berhasil bekerja, berwirausaha, maupun mengikuti kompetisi dapat menjadi motivasi bagi peserta Batch 5.
Di sisi lain, pengalaman tersebut perlu diikuti dengan evaluasi terhadap peserta yang belum berhasil terserap ke dunia kerja. Penelusuran alumni menjadi salah satu instrumen untuk mengetahui apakah kendalanya terletak pada kompetensi, kesesuaian bidang pelatihan, ketersediaan lowongan, atau faktor lain.
Balai vokasi ditargetkan bertambah
Dalam sesi wawancara, Yassierli menyampaikan bahwa Kemnaker saat ini memiliki 42 balai pelatihan vokasi. Pemerintah berencana menambah sedikitnya 14 balai pada 2027, sehingga jumlahnya ditargetkan mencapai sekitar 56 balai apabila seluruh rencana penambahan terealisasi.
Pemerintah juga menargetkan keberadaan setidaknya satu balai di setiap provinsi. Balai-balai tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan pelatihan, termasuk pembinaan terhadap lembaga pelatihan milik pemerintah daerah.
Secara nasional, Kemnaker menyediakan 31 bidang kejuruan. Beragam pilihan tersebut diharapkan dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakat dengan peluang kerja yang tersedia.
Namun, penambahan balai perlu diikuti kesiapan instruktur, fasilitas, kurikulum, dan kerja sama dengan industri. Perluasan infrastruktur pelatihan akan lebih bermakna apabila diikuti peningkatan kualitas kompetensi serta peluang kerja bagi lulusannya.
Pelatihan penyandang disabilitas diperluas
Perhatian terhadap akses pelatihan bagi penyandang disabilitas juga menjadi bagian dari program Kemnaker. Yassierli menyebut, sepanjang 2026 sebanyak 1.013 penyandang disabilitas telah mengikuti pelatihan vokasi.
Bidang pelatihan yang diberikan antara lain menjahit dan keterampilan lainnya. Ke depan, pemerintah berencana memperluas pilihan ke bidang teknologi informasi, komputer, layanan pusat panggilan atau call center, serta keterampilan teknis lainnya.
Kemnaker juga tengah menyiapkan pusat pelatihan penyandang disabilitas di area gedung yang sedang memasuki tahap perancangan dan renovasi. Fasilitas tersebut direncanakan menampung program pelatihan yang lebih beragam, termasuk bidang teknologi informasi dan keterampilan kerja yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Pengembangan fasilitas itu diharapkan memperluas kesempatan penyandang disabilitas untuk memperoleh kompetensi dan memasuki dunia kerja secara lebih inklusif.
Tantangan pemerintah memastikan hasil pelatihan
Pelaksanaan Pelatihan Vokasi Nasional Batch 5 menunjukkan besarnya upaya pemerintah memperluas akses peningkatan keterampilan. Namun, target penyerapan tenaga kerja dari sekitar 40 persen menjadi 70 persen masih memerlukan pembuktian melalui hasil penelusuran alumni.
Pemerintah perlu memastikan bahwa peserta yang telah menyelesaikan pelatihan tidak hanya memperoleh sertifikat, tetapi juga memiliki akses terhadap lowongan kerja, dukungan untuk berwirausaha, dan kesempatan meningkatkan keterampilan sesuai perkembangan industri.
Data kebekerjaan yang sedang dikumpulkan Kemnaker akan menjadi salah satu tolok ukur penting untuk mengevaluasi program tersebut. Dari data itu, pemerintah dapat mengetahui seberapa banyak lulusan yang bekerja, berapa yang membangun usaha, serta berapa yang masih mencari pekerjaan setelah pelatihan.
Dengan demikian, keberhasilan pelatihan vokasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah peserta, banyaknya balai, atau jumlah bidang kejuruan yang tersedia. Ukuran akhirnya adalah sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan daya saing tenaga kerja dan memperluas kesempatan masyarakat memperoleh penghidupan yang lebih baik.









