Venomena.id – Pemandangan memilukan sekaligus ironis terlihat di salah satu titik pemberhentian penumpang TransJakarta di kawasan Jalan Raya Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu 20 September 2026.
Di tengah semangat warga menggunakan transportasi publik, fasilitas dasar untuk sekadar, duduk dan berteduh saat menunggu bus justru nyaris tak terlihat. Sebagai gantinya, sejumlah bangku kayu berjajar di lokasi tersebut. Sekilas, keberadaan bangku itu mungkin terlihat biasa. Namun ada satu tulisan yang membuatnya menjadi sorotan, yaitu “DIBIKIN WARGA”.

Pantauan di lokasi, nampak sejumlah calon penumpang harus berdiri dan mengantre di pinggir jalan sambil menunggu kedatangan bus TransJakarta menuju Jakarta sambil berpanas-panasan.
Sebagian warga kemudian memanfaatkan bangku-bangku kayu yang tersedia. Bangku tersebut sedikit memberikan ruang bagi warga untuk beristirahat, terutama bagi penumpang lanjut usia.
“Baru tau saya adanya bangku bangku ini. Ya cukup membantu warga, yang biasanya harus berdiri kini ada duduk. Sepertinya ini buatan warga ya,” ucap Ade, seorang wanita pengguna TJ yang hendak menuju Cawang sembari menunggu Kedatangan bus.
Ade menambahkan, keberadaan bangku ini mungkin kedepannya sangat diperlukan untuk dibangun halte agar kenyamanan warga bisa diperhatikan.
Senada dengan Ade, sosok mahasiswa bernama Jesica ini juga sangat mengapresiasi keberadaan banku-bangku tersebut.
“Tentunya sangat-sangat membantu yaa, saya biasa memakai Transjakarta. Ini bangku sih belum lama,” terang Jesica mahasiswi salah satu PTS di Jakarta
Para penumpang banyak yang tidak mengetahui kapan bangku tersebut dibuat dan siapa yang pertama kali meletakkannya. Sejumlah penumpang bahkan mengaku tidak mengetahui asal-usul bangku tersebut.
Warga membayar untuk menggunakan transportasi umum dan rela meninggalkan kendaraan pribadi namun terpaksa harus berdiri di bawah terik matahari demi menunggu bus. Untuk mendapatkan tempat duduk yang sederhana, warga juga yang harus berinisiatif membuatnya. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan.
Warga berharap Pemerintah Kota Bekasi maupun pihak terkait diharapkan tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Penyediaan halte atau titik pemberhentian yang dilengkapi tempat duduk, atap pelindung, serta fasilitas dasar lainnya menjadi kebutuhan penting, bukan sekadar pelengkap.
Sebab pelayanan transportasi publik bukan hanya soal menyediakan bus. Dan kini, tulisan “DIBIKIN WARGA” di bangku-bangku kayu itu seakan menjadi pesan keras yang ditujukan kepada pemerintah:
Haruskah warga membuat sendiri fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan? Atau, jangan-jangan nantinya halte pun harus bertuliskan: “DIBIKIN WARGA.”









