V News

PSEL Bekasi Jangan Cuma Bawa Asap, Warga Lokal Harus Dapat Manfaat

44
×

PSEL Bekasi Jangan Cuma Bawa Asap, Warga Lokal Harus Dapat Manfaat

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Pemerintah Kota Bekasi mulai membuka jalan agar proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang tidak hanya menjadi proyek besar yang berdiri di wilayah Kota Bekasi, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi warga setempat.

Salah satu yang didorong adalah keterlibatan tenaga kerja lokal. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bahkan mulai turun ke sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memetakan lulusan yang dinilai memiliki kompetensi sesuai kebutuhan operasional PSEL.

Langkah itu dilakukan dengan mengunjungi tiga SMK pada Selasa (6/10). Ketiganya yakni SMK Karya Guna 1 Duren Jaya, Bekasi Timur, SMKN 5 Teluk Pucung, Bekasi Utara, dan SMK Patriot 1 Harapan Mulya, Medan Satria.

Ratusan siswa mendapat sosialisasi mengenai peluang kerja sekaligus kompetensi yang dibutuhkan dalam proyek tersebut. Jurusan elektrik, teknik mesin dan bidang teknik lainnya menjadi salah satu sasaran karena dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan operasional PSEL.

Tri mengatakan, keberadaan proyek strategis di Kota Bekasi semestinya tidak membuat warga lokal hanya menjadi penonton. Pemerintah daerah, menurut dia, harus ikut memastikan masyarakat memiliki akses terhadap peluang yang muncul dari pembangunan tersebut.

“Kalau ada proyek strategis yang hadir di Kota Bekasi, anak-anak Bekasi harus punya kesempatan untuk ikut mengambil peran. Kita tidak ingin proyeknya ada di sini, tetapi tenaga kerjanya justru seluruhnya datang dari luar,” ujar Tri.

Baja juga:  Dipergoki Warga, Maling Motor Dihakimi Massa di Bekasi

Menurutnya, pemerintah kini mencoba membangun pola yang mempertemukan kebutuhan proyek dan dunia usaha dengan kompetensi tenaga kerja lokal. Pemetaan bahkan dilakukan sejak bangku sekolah agar lulusan SMK tidak baru mencari pekerjaan setelah lulus tanpa mengetahui kebutuhan industri.

“Anak-anak kita punya kompetensi, sementara proyek dan dunia usaha membutuhkan tenaga kerja. Kita pertemukan keduanya,” katanya.

Untuk PSEL, calon tenaga kerja yang lolos seleksi nantinya dipersiapkan mengikuti pelatihan selama delapan bulan di PT Wangneng, China. Peserta tidak hanya dituntut memenuhi persyaratan pendidikan, tetapi juga harus memenuhi persyaratan kesehatan jasmani dan rohani serta ketentuan seleksi lainnya.

Kesempatan pelatihan tersebut menjadi salah satu pintu bagi lulusan SMK Kota Bekasi untuk meningkatkan kemampuan sebelum terjun ke lingkungan kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dan energi.

Namun, di balik peluang tersebut, besarnya proyek PSEL juga membawa ekspektasi lain. Fasilitas yang berada di RW 04, Ciketingudik, Bantargebang, itu dirancang di atas lahan seluas 6,1 hektare dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.

Baja juga:  Terancam PAW, Ustuchri Anggota DPRD Kota Bekasi Lakukan Upaya Hukum

Teknologi yang digunakan disebut Moving Gate Incinerator dengan sistem pengendalian polusi udara. Artinya, manfaat ekonomi dan kesempatan kerja harus berjalan beriringan dengan kepastian pengelolaan lingkungan.

Pemkot Bekasi memproyeksikan PSEL mampu menghasilkan listrik untuk kebutuhan sekitar 55.000 rumah tangga. Proyek itu juga diklaim berpotensi mengurangi emisi hingga sekitar 640.000 ton CO₂ ekuivalen per tahun.

Karena itu, keberhasilan PSEL tidak semata-mata dapat diukur dari berdirinya fasilitas atau banyaknya sampah yang mampu diolah. Bagi warga Bekasi, ukuran manfaatnya juga menyangkut sejauh mana masyarakat sekitar memperoleh dampak ekonomi, termasuk kesempatan kerja bagi generasi muda.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya menjadi penonton ketika pembangunan berlangsung di daerahnya sendiri. Mereka harus menjadi bagian dari pembangunan itu,” tegas Tri.

Pemkot Bekasi pun berencana melanjutkan pemetaan kompetensi tenaga kerja lokal dan mempertemukannya dengan kebutuhan proyek maupun dunia usaha.

Pesannya sederhana, proyek boleh datang ke Bekasi, tetapi manfaatnya jangan berhenti di pagar proyek. Warga lokal, terutama generasi muda, harus mendapat ruang untuk ikut tumbuh bersama pembangunan yang berlangsung di daerahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *