V News

Air Kali Bekasi Kembali Menghitam Dan Bau, Penanganan Tak Kunjung Hadir, Menteri LH Hanya Lips Service

82
×

Air Kali Bekasi Kembali Menghitam Dan Bau, Penanganan Tak Kunjung Hadir, Menteri LH Hanya Lips Service

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Kali Bekasi kembali menjadi sorotan. Sejak Kamis pekan lalu hingga Rabu (16/9), aliran sungai yang menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat itu dilaporkan berubah warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.

Kondisi tersebut bukan kali pertama terjadi. Namun, kali ini pencemaran dinilai berlangsung lebih lama dibanding kejadian sebelumnya yang biasanya hanya bertahan satu hingga tiga hari sebelum warna air kembali normal.

Warga yang beraktivitas di sekitar aliran Kali Bekasi mengaku terganggu dengan perubahan warna dan bau tersebut. Mereka berharap pemerintah tidak sekadar melakukan pemantauan, tetapi segera mencari sumber pencemaran dan memastikan penanganannya.

Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi menemukan indikasi pencemaran serius pada aliran Kali Cileungsi hingga Kali Bekasi.

Hasil pemantauan lapangan dan pengujian laboratorium DLH Kota Bekasi menunjukkan sejumlah parameter kualitas air telah melampaui baku mutu lingkungan. Parameter yang ditemukan antara lain Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO), Nikel Terlarut, Seng Terlarut, Tembaga Terlarut, serta Fecal Coliform.

Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, sebelumnya mengatakan hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya pencemaran yang berpotensi menurunkan kualitas badan air sepanjang aliran sungai.

Temuan lapangan juga memperlihatkan kondisi air di sekitar Cluster Richmond, Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Penegakan Hukum (PPKLHPH) DLH Kota Bekasi, Wulan Agustina, bahkan menyebut kondisi pencemaran Kali Bekasi masuk kategori berat.

DLH Kota Bekasi juga menyatakan aliran air yang diduga tercemar bergerak dari wilayah Kabupaten Bogor menuju Pangkalan 6, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, hingga kawasan Delta Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan.

Baja juga:  Aktivis Desak Menteri Bahlil Disangsi Copot Dari Jabatannya

Artinya, persoalan ini tidak berhenti pada batas satu wilayah administrasi. Dugaan pencemaran mengalir dari wilayah hulu ke hilir dan membutuhkan penanganan lintas daerah.

DLH Kota Bekasi sebelumnya telah mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI, DLH Provinsi Jawa Barat, serta DLH Kabupaten Bogor untuk mendorong koordinasi dan penanganan.

Jika dugaan pencemaran telah berulang dan hasil pemeriksaan laboratorium telah menunjukkan sejumlah parameter melewati baku mutu, mengapa persoalan serupa kembali terjadi?

Terlebih, sebelumnya juga pernah ditemukan dugaan pipa pembuangan limbah industri di wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor. Temuan tersebut sempat menjadi perhatian karena kawasan hulu Kali Bekasi diduga berkaitan dengan kualitas air yang masuk ke wilayah Kota Bekasi.

Kini, ketika air kembali menghitam dan berbau selama hampir sepekan, warga mempertanyakan sejauh mana tindak lanjut terhadap sumber pencemaran tersebut.

Dalam kunjungan kerja ke Bekasi, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohamad Jumhur Hidayat, menyatakan pemerintah pusat siap menindaklanjuti laporan mengenai dugaan pencemaran lingkungan.

“Silakan laporkan saja, pasti kami tindak lanjuti dan inspeksi. Sampai Papua pun akan kami tindak lanjuti jika ada laporan,” kata Jumhur, Rabu (16/9).

Salah seorang warga, Kasman, mengatakan perubahan warna air mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir. Air yang sebelumnya tampak lebih jernih berubah menjadi hitam dan disertai bau menyengat.

“Kalau tanggapan soal kali ini, saya sudah melihat beberapa hari ada perubahan warna. Yang tadinya bening sekarang berubah menjadi hitam. Saya sebagai masyarakat tidak tahu penyebabnya, tetapi yang saya rasakan dan saya lihat warnanya menjadi hitam dan juga bau,” ujar Kasman.

Baja juga:  Hasil Tes Urin Sopir Penabrak di GT Halim Negatif

Menurutnya, bau yang muncul cukup mengganggu aktivitas warga. Ia berharap pemerintah segera turun tangan agar kondisi Kali Bekasi kembali normal.

“Baunya sampai menyengat, mengganggu banget. Dari sisi kebersihan mungkin memang harus ada penanganan. Ini sudah beberapa hari saya lihat air tidak berubah. Kami mohon Pemerintah Kota Bekasi supaya segera mencari cara agar air ini normal kembali,” katanya.

Kasman juga menyoroti kecenderungan saling menyalahkan antara pemerintah daerah ketika pencemaran terjadi. Menurut dia, persoalan tersebut seharusnya diselesaikan melalui kerja sama, bukan dengan melempar tanggung jawab dari satu wilayah ke wilayah lain.

“Kalau menurut saya sebagai masyarakat, sinergi saja. Tidak usah saling menyalahkan. Yang penting bekerja, ditelusuri dari mana sumbernya. Ini kok air bisa hitam? Apakah dari limbah atau dari mana? Kalau sebagai masyarakat tidak tahu. Tahunya masyarakat itu airnya hitam dan bau,” tegasnya.

Kondisi Kali Bekasi yang kembali menghitam membuat janji penanganan menjadi sorotan. Di satu sisi, pemerintah daerah telah menyampaikan hasil pemantauan dan meminta koordinasi lintas wilayah. Di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan siap melakukan inspeksi apabila laporan disampaikan.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar siapa yang berwenang, melainkan seberapa cepat sumber pencemaran ditemukan dan dihentikan.

Sebab, selama aliran hitam dan bau masih terus mengalir, masyarakat kembali berhadapan dengan persoalan yang sama. Dan jika pencemaran terus berulang tanpa penanganan yang terlihat di lapangan, pernyataan soal tindak lanjut berisiko hanya berhenti sebagai janji, sementara Kali Bekasi terus menanggung dampaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *