V News

Lebih dari Seribu Peserta Ikuti OMI 2026 di Bekasi, Madrasah Siapkan Wakil ke Tingkat Nasional

46
×

Lebih dari Seribu Peserta Ikuti OMI 2026 di Bekasi, Madrasah Siapkan Wakil ke Tingkat Nasional

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Sebanyak 1.026 siswa madrasah mengikuti Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kota Bekasi yang dipusatkan di MTs Negeri 1 Kota Bekasi pada 7–9 September 2026. Kompetisi yang mengusung tema penguatan riset, transformasi digital, ekoteologi keislaman, dan Sustainable Development Goals (SDGs) ini menjadi tahapan seleksi menuju tingkat provinsi hingga nasional.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi, Moh. Agung Istiqlal, mengatakan OMI dirancang tidak hanya mengukur kemampuan akademik peserta, tetapi juga membentuk karakter siswa yang mampu berpikir analitis, inovatif, dan solutif dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan serta transformasi digital.

“Standarnya adalah melahirkan inovasi, melatih kemampuan analitis dan solutif peserta didik dalam menghadapi isu-isu strategis seperti pembangunan berkelanjutan dan transformasi digital. OMI juga menjadi ruang kompetisi yang terbuka bagi peserta didik madrasah untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata Agung, Selasa (8/9).

Menurut Agung, pelaksanaan OMI tingkat Kota Bekasi berlangsung selama tiga hari dengan total peserta mencapai 1.026 orang. Mereka merupakan hasil seleksi dari madrasah masing-masing sebelum berkompetisi di tingkat kota.

“Harapannya, anak-anak yang memiliki potensi mendapatkan ruang untuk berkembang. Dari tingkat kota mereka akan diseleksi ke tingkat provinsi, kemudian nasional sehingga mampu mengharumkan nama Kota Bekasi,” ujarnya.

Wakil Ketua Pelaksana OMI Kota Bekasi, Tri Wahyuni, menjelaskan peserta terdiri atas 239 siswa jenjang MA, 404 siswa MTs, dan 383 siswa MI. Kompetisi dilaksanakan dalam beberapa sesi sesuai jenjang pendidikan. Untuk tingkat MA diperlombakan Matematika, Geografi, Fisika, Ekonomi, Biologi, dan Kimia. Jenjang MTs mempertandingkan Matematika, IPA, dan IPS, sedangkan jenjang MI melombakan IPAS dan Matematika.

Baja juga:  Bikin Paspor Sambil Nge Mall di Immigration Lounge Pertama di Jawa Barat

Ia menjelaskan tujuan utama OMI adalah meningkatkan prestasi akademik sekaligus membentuk generasi madrasah yang unggul dan berkarakter.

“Konsep soal OMI tidak hanya menguji penguasaan mata pelajaran, tetapi juga dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman. Misalnya materi Biologi, Fisika, atau tema lingkungan dihubungkan dengan ayat Al-Qur’an maupun pemahaman keagamaan. Jadi pelajaran umum tetap memiliki keterkaitan dengan pendidikan agama,” ujar Tri.

Tri menambahkan seluruh proses seleksi dilakukan secara berjenjang, dimulai dari tingkat madrasah, kemudian tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Setiap madrasah mengirimkan tiga peserta terbaik hasil seleksi internal untuk mengikuti kompetisi tingkat kota.

Pelaksanaan OMI tahun ini sepenuhnya menggunakan sistem ujian berbasis komputer yang terhubung dengan pusat. Menurut Tri, sistem tersebut diterapkan untuk mempercepat proses koreksi karena penilaian dilakukan secara otomatis sehingga hasil lebih cepat dan objektif.

Untuk mendukung pelaksanaan kompetisi, MTs Negeri 1 Kota Bekasi menyediakan 11 ruang kelas sebagai lokasi ujian. Selama penyelenggaraan OMI, kegiatan belajar mengajar siswa MTsN 1 Kota Bekasi dialihkan sementara melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Ketua Komite MTs Negeri 1 Kota Bekasi, Wida Esa Kelana, mengatakan komite mendukung penuh pembinaan peserta OMI, mulai dari penyediaan anggaran, sarana, hingga kebutuhan pembinaan akademik.

Baja juga:  Kemensos Bagi-bagi Sembako ke Ratusan Pasien ODGJ di Bekasi

“Komite memberikan dukungan anggaran sesuai proposal yang diajukan pembina olimpiade. Untuk mendukung pembinaan, pengadaan kebutuhan peserta, dan persiapan lomba,” kata Wida.

Menurut dia, pembinaan peserta dimulai sejak Agustus melalui program sekolah olimpiade. Harapannya, wakil MTsN 1 Kota Bekasi mampu melaju hingga tingkat provinsi bahkan nasional sebagaimana capaian pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Wali Kelas MTs Assyafiiyah 05 Kota Bekasi, Puji Waluya, mengatakan sekolah melakukan seleksi peserta berdasarkan nilai harian, rapor, dan tes kemampuan. Dari proses tersebut dipilih tiga siswa terbaik yang kemudian mengikuti pembinaan intensif selama sekitar satu bulan.

“Kami memilih siswa berdasarkan kemampuan akademik dan hasil seleksi. Setelah itu mereka mendapat pembinaan materi serta latihan soal secara rutin,” ujarnya.

Puji mengakui pelaksanaan ujian berbasis komputer menjadi tantangan tersendiri bagi peserta. Saat simulasi, sejumlah siswa sempat mengalami kendala teknis seperti respons server yang lambat. Meski demikian, menurut dia, sistem digital memberikan keuntungan karena hasil ujian dapat dikoreksi secara otomatis sehingga lebih cepat dan transparan.

OMI 2026 menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama meningkatkan mutu pendidikan madrasah melalui kompetisi akademik yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan nilai-nilai keislaman. Para peserta terbaik tingkat Kota Bekasi selanjutnya akan mewakili daerah pada seleksi tingkat provinsi sebelum bersaing di tingkat nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *