Venomena.id – Jihad tidak selalu berarti mengangkat senjata atau berjuang di medan perang. Di tengah perubahan zaman, perjuangan juga hadir dalam kesungguhan menuntut ilmu, menjaga akhlak, melawan kebodohan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Bagi santri, jihad adalah upaya mempersiapkan diri agar mampu menjaga nilai-nilai agama sekaligus menjawab persoalan masyarakat yang terus berkembang.
Semangat itulah yang menjadi relevan dalam peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober. Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi digital, krisis kemanusiaan, hingga tantangan pendidikan, santri dituntut tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bekasi, H. Asnawi, memandang perubahan zaman sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pesantren untuk terus berkembang. Menurut dia, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperkuat, yakni penguasaan teknologi, pembentukan karakter dan moral, serta pengembangan keilmuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Sekarang zamannya teknologi. Pendidikan pesantren juga harus melihat perkembangan itu agar tidak tertinggal, terutama dalam hal informasi dan pengembangan kemampuan santri,” ujarnya.
Menurut Asnawi, teknologi dapat membantu santri memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang. Santri yang kelak menjadi pendakwah, misalnya, perlu memahami cara menyampaikan ajaran agama dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Teknologi juga dapat membantu proses pembelajaran, termasuk memperluas akses terhadap literatur keislaman.
Namun, kemajuan teknologi tidak boleh membuat pesantren kehilangan jati dirinya. Asnawi menegaskan, kekuatan pesantren sejak sebelum Indonesia merdeka terletak pada perannya membentuk generasi yang berilmu, bermoral, dan berkarakter.
Karena itu, peran kiai, ustaz, dan guru tetap menjadi unsur penting dalam pendidikan pesantren. Penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak agar santri tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan ilmu dan tindakannya.
“Pesantren harus tetap menjadi penjaga moral. Karena itu, kami mengajak para kiai membangun komitmen bersama untuk menjaga marwah pesantren,” katanya.
Menjaga tradisi, membuka diri terhadap perubahan
Tantangan pesantren tidak berhenti pada penguasaan teknologi. Dunia pendidikan Islam juga perlu memastikane bahwa tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama tetap relevan bagi generasi sekarang.
Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren, KH Ismail Anwar, menilai jihad santri pada masa kini harus dimaknai sebagai kesungguhan mempersiapkan masa depan melalui ilmu pengetahuan. Perjuangan tidak lagi semata-mata berlangsung di medan perang, melainkan juga di ruang pemikiran, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Menurut dia, santri perlu mempertahankan tradisi turats, yakni khazanah keilmuan klasik Islam, termasuk pembelajaran kitab kuning. Namun, tradisi tersebut tidak seharusnya membuat pesantren menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
“Santri harus bersungguh-sungguh belajar untuk mempersiapkan masa depan dengan ilmu. Tradisi lama tetap dijaga, tetapi hal-hal baru yang baik juga perlu diambil,” ujar Ismail.
Ia mengingatkan, keterbukaan bukan berarti meninggalkan prinsip agama. Sebaliknya, santri perlu memiliki landasan keilmuan yang kuat agar mampu menyaring berbagai pemikiran dan informasi yang masuk.
Di era media sosial, informasi dapat tersebar dalam hitungan detik. Siapa pun bisa menyampaikan pendapat kepada publik, tetapi tidak semua informasi memiliki dasar yang benar. Karena itu, santri perlu membiasakan diri melakukan tabayun, memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Asnawi juga mendorong pesantren memperluas ruang diskusi bagi para santri. Tradisi kajian dan pembahasan masalah atau bahtsul masail dapat menjadi sarana melatih keberanian berpendapat sekaligus memperdalam literasi.
Dengan berdiskusi, santri tidak hanya belajar menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut membaca, mengkaji, dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting untuk menghadapi hoaks, propaganda, dan perbedaan pendapat di ruang publik.
Bagi Ismail, tantangan terbesar bukan semata-mata banyaknya informasi yang beredar, melainkan kemampuan manusia memahami informasi tersebut secara benar.
“Kebodohan bukan hanya soal tidak mengetahui sesuatu. Keterbelakangan dalam memahami persoalan juga menjadi tantangan. Karena itu, kewajiban kita adalah terus memberantas kebodohan,” tuturnya.
Jihad yang menyentuh kehidupan manusia
Perjuangan melawan kebodohan tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas. Nilai-nilai yang diperoleh di pesantren perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ismail menilai pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pemberdayaan sosial. Kehadiran santri dan kegiatan pendidikan dapat menggerakkan perekonomian warga sekitar, mulai dari warung kecil, jasa transportasi, hingga usaha laundry dan berbagai kebutuhan lainnya.
Pesantren juga dapat membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui subsidi biaya belajar. Menurut Ismail, di sejumlah pesantren di Kota Bekasi, sekitar 60 persen santri membayar biaya pendidikan, sedangkan 40 persen lainnya memperoleh subsidi. Angka tersebut merupakan keterangan yang disampaikannya dan belum disertai data terverifikasi secara menyeluruh.
Baginya, pesantren semestinya tidak tumbuh sebagai lembaga yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Pendidikan agama harus berjalan bersama kepedulian terhadap persoalan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Santri yang telah menimba ilmu juga diharapkan tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi. Ilmu harus menjadi bekal untuk membantu orang lain, baik melalui pendidikan, kewirausahaan, pelayanan masyarakat, maupun profesi yang kelak mereka jalani.
“Ukuran manusia yang baik adalah ketika ia bisa memberikan manfaat kepada orang banyak. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi ulama, tetapi juga dapat menjadi birokrat, pengusaha, atau menekuni profesi lain dengan tetap memegang nilai-nilai agama,” kata Ismail.
Pandangan itu sejalan dengan harapan Asnawi agar pesantren mampu mengembangkan keterampilan santri tanpa kehilangan fokus pada pendidikan agama. Sejumlah pesantren telah mengembangkan bidang pertanian, kewirausahaan, teknologi, hingga kepemimpinan sesuai dengan karakter dan potensi masing-masing.
Asnawi menilai tidak semua pesantren harus memiliki model pendidikan yang sama. Pesantren kecil pun dapat menghasilkan lulusan berkualitas apabila memiliki arah pendidikan yang jelas, pengasuhan yang baik, serta penguatan keilmuan yang memadai.
Meski demikian, dukungan pemerintah tetap diperlukan, terutama untuk memperkuat sarana dan prasarana pesantren yang membutuhkan bantuan. Program pendidikan, bantuan operasional, dukungan bagi santri, dan peningkatan kompetensi guru perlu dijalankan secara tepat sasaran.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan bahwa santri memperoleh pengalaman belajar yang cukup untuk menghadapi kehidupan setelah lulus. Pendidikan pesantren harus membekali mereka dengan karakter kuat, kemandirian, dan keluasan ilmu.
Merawat kemanusiaan, menolak kekerasan
Menjaga agama dan membentuk karakter tidak dapat dipisahkan dari kewajiban melindungi martabat manusia. Pesantren yang mendidik santri dengan nilai moral juga harus memastikan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan.
Asnawi mengakui pentingnya penguatan pengawasan dan pencegahan perundungan di lingkungan pesantren. Menurut dia, pola pengasuhan perlu disesuaikan dengan kebutuhan santri, termasuk memperhatikan perbedaan kebutuhan perlindungan antara santri putra dan putri.
Kementerian Agama, kata dia, perlu membangun komunikasi dengan pengelola pesantren untuk memahami kegiatan santri selama 24 jam, sistem pengasuhan, serta kondisi tempat tinggal mereka. Langkah tersebut penting agar potensi masalah dapat dikenali lebih dini.
Ia juga mendorong keterbukaan pesantren terhadap pendampingan dan evaluasi. Kemandirian lembaga pendidikan tetap perlu dihormati, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menutup diri dari upaya pencegahan kekerasan dan perlindungan anak.
“Perlu kolaborasi antara pemerintah dan pesantren. Penguatan dan mitigasi harus berjalan agar hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah,” ujarnya.
Ismail menambahkan, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan adab. Menurut dia, ilmu yang tidak disertai akhlak berisiko kehilangan arah ketika diterapkan dalam kehidupan.
Karena itu, santri perlu dibiasakan menghormati perbedaan, mendengarkan pendapat orang lain, serta menyampaikan kritik secara santun. Ketika menghadapi ketidakadilan sosial, keberanian menyuarakan kebenaran harus disertai kemampuan berdialog dan menawarkan jalan keluar.
Prinsip tersebut juga penting dalam menyikapi persoalan dunia Islam, termasuk krisis kemanusiaan di Palestina dan wilayah lain yang dilanda konflik. Solidaritas tidak seharusnya berubah menjadi kebencian terhadap kelompok atau bangsa lain.
Bagi Ismail, kepedulian dapat diwujudkan melalui doa, bantuan kemanusiaan, pendidikan, serta upaya membangun perdamaian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kepedulian terhadap masyarakat di luar negeri juga perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab memperbaiki lingkungan sendiri.
Pesantren, menurut dia, harus menanamkan sikap empati tanpa menghilangkan nalar kritis. Santri perlu memahami persoalan secara lebih luas, bukan sekadar mengikuti arus emosi atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Santri dan masa depan yang terbuka
Perubahan zaman juga menuntut pesantren menyiapkan lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan dan memasuki berbagai bidang pekerjaan. Asnawi melihat peluang santri untuk menempuh pendidikan tinggi kini semakin terbuka, baik di perguruan tinggi keagamaan maupun universitas umum.
Ia mencontohkan lulusan pesantren yang melanjutkan pendidikan hingga menjadi dokter. Ada pula yang berkiprah sebagai pejabat publik, pengusaha, pendidik, dan pemimpin masyarakat.
Namun, ia mengakui data mengenai persebaran profesi dan serapan kerja lulusan pesantren masih perlu diperkuat. Sebagian lulusan melanjutkan pendidikan, sementara yang lain mengabdi langsung di masyarakat atau meneruskan pengelolaan pesantren keluarga.
Ke depan, kemampuan digital, bahasa asing, dan keterampilan profesional perlu mendapat perhatian lebih besar. Penguasaan bahasa, misalnya, dapat membuka akses santri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kerja sama internasional.
Ismail menilai setiap pesantren memiliki keunggulan berbeda. Ada yang kuat dalam kajian kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, bahasa asing, pertanian, atau kewirausahaan. Keunggulan tersebut perlu dikembangkan tanpa memaksakan semua pesantren mengikuti satu model yang sama.
Yang terpenting, santri harus memiliki kesiapan menghadapi perubahan tanpa kehilangan prinsip hidupnya.
“Kalau santri hanya menguasai ilmu agama tetapi tidak membuka wawasan terhadap perkembangan zaman, ia bisa kaget ketika menghadapi dunia luar. Karena itu, pesantren harus terus berinovasi,” katanya.
Suara Santri: Jihad dengan Ilmu dan Kepedulian
Di Pondok Pesantren Al Hidayah Nurul Ummah, Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, semangat jihad melalui pendidikan juga dimaknai oleh Ubaidillah, santri kelas XII SMA/aliyah. Bagi dia, Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk mengingat kembali tanggung jawab santri dalam menuntut ilmu dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menurut saya, jihad santri zaman sekarang bukan berarti harus berperang. Jihad bisa dilakukan dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Sebagai santri, kami harus belajar agama, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi dan keadaan di sekitar kami,” ujar Ubaidillah.
Di tengah derasnya arus informasi dan penggunaan media sosial, ia menilai santri harus mampu membedakan informasi yang benar dan yang tidak benar. Menurutnya, kemudahan mendapatkan informasi harus diimbangi dengan sikap kritis agar tidak mudah terpengaruh berita bohong.
“Sekarang informasi mudah sekali didapat dari media sosial. Tetapi, kita tidak boleh langsung percaya atau ikut menyebarkan berita. Harus diperiksa dulu kebenarannya. Menurut saya, itu juga bagian dari perjuangan melawan kebodohan, karena kita harus belajar memahami sesuatu sebelum mengambil kesimpulan,” katanya.
Ubaidillah juga memandang ilmu yang dipelajari di pesantren seharusnya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Santri perlu memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang menghadapi kesulitan, termasuk masyarakat kurang mampu dan anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak.
“Kalau kita sudah punya ilmu, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Kita juga harus bisa membantu orang lain sesuai kemampuan. Misalnya, membantu teman yang kesulitan belajar, ikut kegiatan sosial, atau berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Menurut saya, hal-hal sederhana seperti itu juga merupakan bentuk pengabdian,” tuturnya.
Sebagai santri yang sedang menempuh pendidikan tingkat akhir, Ubaidillah menyadari bahwa tantangan setelah lulus akan semakin besar. Karena itu, ia berharap pendidikan pesantren terus berkembang dan memberikan ruang bagi santri untuk mengasah kemampuan di bidang teknologi, keterampilan, dan pengetahuan umum tanpa meninggalkan pelajaran agama.
“Harapan saya, santri bisa bersaing di dunia luar dan punya kesempatan untuk meraih cita-cita di berbagai bidang. Kami tetap harus menjaga agama dan akhlak, tetapi juga jangan sampai tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, ketika lulus nanti, kami bisa mandiri dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan negara,” ujarnya.
Bagi Ubaidillah, makna Hari Santri terletak pada kesediaan untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu. Santri, menurutnya, tidak cukup hanya memahami ajaran agama, tetapi juga harus menunjukkan nilai-nilai tersebut melalui sikap sehari-hari.
“Pesan saya kepada anak muda, jangan takut belajar di pesantren. Di pesantren kita belajar agama, kedisiplinan, kemandirian, dan hidup bersama orang lain. Yang paling penting, ilmu yang kita dapat harus diamalkan. Jangan hanya pintar untuk diri sendiri, tetapi berusahalah agar keberadaan kita juga bermanfaat bagi orang lain,” katanya.









