V Sport

21 Atlet Cheerleading Bekasi Bawa Pulang Enam Medali dari Thailand Open, Regenerasi Atlet Cilik Mulai Berbuah

116
×

21 Atlet Cheerleading Bekasi Bawa Pulang Enam Medali dari Thailand Open, Regenerasi Atlet Cilik Mulai Berbuah

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Prestasi membanggakan ditorehkan 21 atlet cheerleading asal Kota Bekasi dalam ajang internasional Thailand Open yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Membawa nama Indonesia, para atlet yang tergabung dalam Rockstar Cheerleading Kota Bekasi tersebut berhasil mengoleksi enam medali juara dari sejumlah kategori yang dipertandingkan.

Keberhasilan ini menjadi catatan tersendiri bagi perkembangan olahraga cheerleading di Kota Bekasi. Sebab, para atlet yang bertanding didominasi anak-anak dan remaja dengan rentang usia mulai dari 3 hingga 17 tahun. Mereka harus bersaing dengan peserta dari sejumlah negara yang lebih dahulu mengembangkan olahraga tersebut, seperti Thailand, Jepang, Taiwan, Singapura, dan Filipina.

Pelatih Rockstar Cheerleading Kota Bekasi, Hendro Budianto dan Ranizha Ayu Rizky, mengatakan, kompetisi tersebut mempertandingkan sejumlah kategori, di antaranya Urban Cheer Dance dan Cheer Dance. Keduanya merupakan pengembangan dari olahraga cheerleading yang menggabungkan berbagai disiplin gerak.

Urban Cheer Dance memadukan teknik cheerleading, hip-hop, breaking, dan gimnastik. Sementara Cheer Dance mengombinasikan gerakan cheerleading, balet, kontemporer, serta gimnastik.

“Ini bukan sekadar kompetisi menari. Ada teknik dasar dan gerakan wajib cheerleading yang harus tetap ditampilkan. Jadi, tidak semua penari bisa langsung mengikuti kompetisi ini karena ada regulasi dan standar gerakan yang harus dipenuhi,” ujar Hendro, Minggu (1/11).

Berdasarkan hasil kompetisi, atlet Rockstar berhasil meraih enam podium juara dari beberapa nomor pertandingan. Rinciannya, Nolana meraih juara pertama Urban Cheer Dance Doubles kategori usia 3–6 tahun dengan nilai 78,50. Kerincie menjadi juara pertama Urban Cheer Dance Doubles Junior 1 usia 7–12 tahun dengan nilai 89,00.

Sementara itu, Spotlight meraih posisi kedua Cheer Dance Doubles Junior 1 usia 7–12 tahun dengan nilai 79,00. Flaze menempati posisi kedua Urban Cheer Dance Doubles Junior 2 usia 12–15 tahun dengan nilai 72,00. Rindjanie meraih posisi kedua kategori Urban Cheer Dance Doubles usia 12–17 tahun dengan nilai 70,00. Adapun Star Breaker menempati posisi ketiga Urban Cheer Dance Doubles All Stars dengan nilai 43,50.

Menurut Hendro dan Ranizha, pencapaian tersebut tidak diraih secara instan. Persiapan atlet dilakukan secara bertahap, bahkan untuk menguasai sejumlah teknik seperti headstand dan headspin membutuhkan waktu panjang. Pada beberapa atlet, proses pembentukan kemampuan dasar bisa berlangsung hingga satu tahun.

Terlebih, mereka harus memastikan setiap gerakan dilakukan dengan teknik yang benar dan memperhatikan keselamatan atlet, terutama peserta usia dini yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

“Untuk gerakan tertentu, kami tidak bisa memaksakan anak-anak. Kemampuan setiap atlet berbeda. Kalau belum siap, tidak boleh dipaksakan karena risiko cedera. Keselamatan tetap menjadi prioritas,” katanya.

Baja juga:  Hasil Drawing BARATI Cup Bali 2024, Menpora Dito: Semangat untuk Menjadi Pemuda Juara

Tantangan lainnya adalah menjaga konsentrasi dan suasana hati atlet cilik selama latihan. Pelatih harus menyesuaikan metode pembelajaran dengan usia dan karakter masing-masing anak. Bagi peserta usia 3–6 tahun, latihan lebih dahulu dibangun melalui suasana menyenangkan sebelum masuk ke materi teknik.

“Anak-anak kecil itu suasana hatinya bisa berubah sewaktu-waktu. Bisa capek, mengantuk, atau tiba-tiba tidak mau latihan. Jadi, kami harus membuat mereka senang dulu. Setelah itu baru materi diberikan,” ujar Ranizha.

Dalam proses persiapan, Rockstar juga menerapkan seleksi berdasarkan kemampuan dan kesiapan atlet. Tidak semua anggota klub otomatis diberangkatkan ke kompetisi internasional. Setiap calon peserta harus melalui evaluasi kemampuan, penguasaan teknik, serta pemeriksaan kesesuaian gerakan dengan regulasi pertandingan.

Latihan pun tidak hanya berfokus pada koreografi. Para atlet menjalani pembinaan multidisiplin, mulai dari gimnastik, parkour, breakdance, cheerleading, hingga teknik tari. Jadwal latihan berlangsung hampir sepanjang pekan, menyesuaikan kebutuhan masing-masing kategori.

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, pendidikan formal tetap menjadi prioritas. Sebagian besar atlet harus membagi waktu antara sekolah dan latihan. Seusai kegiatan belajar, mereka biasanya melanjutkan latihan hingga sore atau malam hari. Saat mendekati kompetisi, intensitas latihan ditambah melalui sesi privat.

Hendro dan Ranizha menyebutkan, prestasi di Thailand juga merupakan bagian dari rangkaian pembinaan yang telah berlangsung sejak awal tahun. Para atlet sebelumnya mengikuti kejuaraan daerah pada April dan kejuaraan nasional pada Juni. Sejumlah atlet berhasil menjadi juara pertama sehingga memperoleh kesempatan melanjutkan kompetisi ke tingkat internasional.

Sebelumnya, Rockstar juga mengikuti kompetisi di Taiwan dan berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan. Namun, Thailand Open menjadi salah satu pencapaian penting karena memberikan kesempatan kepada lebih banyak atlet, termasuk kelompok usia dini, untuk merasakan atmosfer pertandingan internasional.

 

Orang Tua Dukung Pilihan Anak

Di balik pencapaian tersebut, dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan para atlet. Winda, Santi, dan Yuli, perwakilan orang tua atlet, mengatakan, keikutsertaan anak-anak dalam olahraga cheerleading berangkat dari keinginan mereka sendiri, bukan paksaan keluarga.

Menurut mereka, peran pelatih dalam memperkenalkan olahraga ini sangat besar. Anak-anak kemudian tertarik dan secara bertahap menjalani latihan hingga memiliki keberanian untuk mengikuti kompetisi.

“Ini pilihan anak-anak sendiri. Kami sebagai orang tua mendukung. Tidak ada tuntutan agar mereka harus menjadi atlet. Yang terpenting, mereka senang menjalani kegiatan ini dan bertanggung jawab terhadap pilihan mereka,” ujar Winda.

Meski demikian, mendampingi anak yang aktif berlatih bukan perkara mudah. Orang tua harus mengatur waktu agar kegiatan sekolah tetap berjalan beriringan dengan jadwal latihan yang cukup padat. Sebab, sebagian atlet menjalani latihan hampir setiap hari, bahkan menghabiskan waktu dari pagi hingga sore saat akhir pekan.

Baja juga:  BARATI Mendunia Kembali Gelar BARATI Cup Bali 2024, Ajang Pencarian Talenta Muda Pesepakbola

Orang tua juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan kemandirian. Dalam kompetisi, anak-anak dibiasakan mengurus kebutuhan pribadi, mulai dari mengganti sepatu hingga menyiapkan perlengkapan sendiri. Pendampingan pun diatur agar setiap atlet usia dini mendapatkan perhatian yang memadai.

Mereka mengakui, proses latihan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya anak-anak merasa lelah, menangis, bahkan mengalami memar akibat aktivitas fisik. Namun, orang tua berusaha memahami kondisi tersebut sekaligus memastikan latihan dilakukan sesuai standar keselamatan.

“Kami tidak ingin hanya menyuruh anak untuk disiplin, tetapi orang tua juga harus memberikan contoh. Kalau mereka lelah, perasaannya harus dihargai. Kami selalu mengingatkan agar mereka tidak mudah menyerah, tetapi tetap harus tahu batas kemampuan tubuhnya,” kata Santi.

Sementara itu, Alunan, salah seorang atlet cilik berusia empat tahun, mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti kompetisi dan membawa pulang penghargaan.

“Senang sekali, bangga,” ujarnya singkat.

Butuh Pembinaan dan Dukungan Lebih Luas

Di sisi lain, Hendro dan Ranizha berharap prestasi tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan cheerleading kepada masyarakat lebih luas. Sebab, olahraga ini masih tergolong baru berkembang di Indonesia, terutama untuk kategori Urban Cheer Dance dan Cheer Dance.

Mereka menyebutkan, jumlah pelatih bersertifikasi internasional di Indonesia masih terbatas. Hingga saat ini, diperkirakan baru terdapat 14 pelatih bersertifikasi sejak 2024. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memperluas pembinaan dan menjangkau lebih banyak daerah.

Rockstar Cheerleading sendiri berada dalam pembinaan Federasi Cheerleading Indonesia (KCSI/FCSI). Ke depan, mereka menargetkan dapat terus mengikuti kejuaraan daerah, nasional, hingga kompetisi internasional, termasuk Cheerleading World Championship (CWC).

Untuk bisa tampil di kejuaraan dunia, atlet harus melewati tahapan seleksi dan memenuhi standar kompetisi. Salah satunya melalui kejuaraan nasional, yang menjadi jalur bagi atlet terbaik untuk mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia.

“Harapan kami, olahraga ini semakin dikenal dan berkembang di Indonesia. Jangan hanya olahraga yang sudah populer seperti sepak bola atau basket yang mendapatkan perhatian. Cheerleading juga memiliki potensi dan bisa membawa nama Indonesia di tingkat internasional,” tutur Hendro.

Mereka berharap pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga turut memberikan perhatian terhadap pembinaan cheerleading, termasuk dukungan fasilitas, kompetisi, serta pengembangan pelatih bersertifikasi.

Bagi Rockstar, enam medali dari Thailand bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan bukti bahwa pembinaan atlet sejak usia dini dapat menghasilkan prestasi apabila dilakukan secara konsisten, terukur, dan mengutamakan keselamatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *