HeadlineV Biz

Berawal dari Gunungan Sampah Bantargebang, Pemuda Bekasi Daur Ulang Limbah Jins Hingga Raup Puluhan Juta dan Tembus Pasar Jepang Serta Inggris

87
×

Berawal dari Gunungan Sampah Bantargebang, Pemuda Bekasi Daur Ulang Limbah Jins Hingga Raup Puluhan Juta dan Tembus Pasar Jepang Serta Inggris

Sebarkan artikel ini
Sosok Anam, Founder Waste for REUSE saat menunjukkan hasil karya kreatif dari daur ulang limbah kain bahan jins

Venomena.id – Siapa sangka, kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang selama ini identik dengan tumpukan sampah, bau menyengat, dan pencemaran lingkungan, justru melahirkan kisah inspiratif yang mendunia.

Adalah Anam Nonako (26), pemuda asal Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, berhasil mengubah limbah kain berbahan denim atau jins menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi. Melalui merek Waste for Reuse, karya-karyanya kini tidak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga berhasil menembus pasar internasional, termasuk Jepang dan London, Inggris.

Berbekal teras rumah berukuran hanya 3 x 6 meter, Anam membangun usaha kreatif yang kini mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah. Produk yang dibuat beragam, mulai dari tas, goodie bag, pouch, hingga rompi berbahan limbah denim yang sebelumnya dianggap tidak lagi memiliki nilai.

Setiap bulan, Anam menampung sekitar 10 ton limbah kain jins dari para pemulung di sekitar TPST Bantargebang. Limbah tersebut kemudian dipilah, dibersihkan, dipotong, dan dijahit kembali menjadi produk fesyen yang dipasarkan dengan harga mulai Rp80 ribu hingga Rp300 ribu per unit.

Kesuksesan itu tidak diraihnya seorang diri. Anam juga memberdayakan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya untuk terlibat dalam proses produksi, mulai dari pencucian bahan, pemotongan pola, hingga penjahitan. Usaha yang dirintisnya pun turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Baja juga:  Tower Sutet di Pedurenan Kota Bekasi Meledak Dan Muncul Asap Tebal Putih

“Ide mendirikan Waste for Reuse lahir dari kebiasaannya melihat tumpukan celana dan jaket jins bekas di kawasan TPST Bantargebang. Saat itu, para pemulung umumnya hanya mengambil bagian logam seperti kancing dan resleting untuk dijual kembali, sementara kain denim dibiarkan menjadi sampah,” ungkapnya kepada redaksi Venomena.id, yang menyambangi di tempatnya berkreasi, Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu 22 Juli 2026.

Berbekal kegemarannya di komunitas pencinta denim, Anam melihat peluang yang tidak dilirik banyak orang. Ia pun mulai bereksperimen mengolah limbah tersebut menjadi produk baru yang memiliki nilai jual tinggi sekaligus ramah lingkungan.

Perjalanan usahanya tidak selalu mudah. Tanpa jaringan bisnis yang luas maupun latar belakang sebagai aktivis lingkungan, Anam memasarkan produknya dari satu komunitas ke komunitas lain serta mengikuti berbagai pameran. Perlahan, kualitas produknya mulai dikenal hingga menarik perhatian banyak pihak.

Baja juga:  Stadion Mini di Bekasi Dipenuhi Sampah Usai Acara Relawan Ganjar

“Kesempatan menembus pasar internasional datang ketika sejumlah wisatawan asing berkunjung ke kawasan TPST Bantargebang. Saat mereka bertanya apakah ada produk yang dihasilkan dari kawasan tersebut, karya-karya Anam diperkenalkan. Respons positif dari para tamu asing menjadi pintu masuk bagi produknya untuk dipasarkan hingga ke luar negeri,” paparnya.

Kini, Waste for Reuse terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi produk fesyen berbasis limbah tekstil. Workshop milik Anam bahkan kerap menjadi lokasi studi, diskusi, dan penelitian bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ingin mempelajari ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah.

“Sampah bukan sekadar barang buangan, melainkan aset yang masih memiliki nilai jika dikelola dengan kreativitas. Ia juga mengingatkan bahwa limbah pakaian merupakan salah satu penyumbang emisi karbon yang cukup besar sehingga perubahan pola konsumsi dan gaya hidup menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Anam tegas.

Kisah Anam membuktikan bahwa dari kawasan yang selama ini dipandang sebagai simbol persoalan lingkungan, lahir inovasi yang mampu mengubah limbah menjadi peluang, memberdayakan masyarakat, sekaligus membawa nama Kota Bekasi ke panggung internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *