HeadlineV Biz

Imbas Dolar Menggila, Usaha Warteg Terpukul Omzet Mulai Menyusut

85
×

Imbas Dolar Menggila, Usaha Warteg Terpukul Omzet Mulai Menyusut

Sebarkan artikel ini

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp18.000 mulai berimbas di kalangan pelaku usaha warung tegal (warteg), penghasilan warteg pun yang menyusut, pelanggan warteg kini juga semakin berhemat dengan memilih menu makan yang lebih murah dan mengurangi jumlah lauk yang dibeli.

Ketua Komunitas Warteg Merah Putih (Kowarmart), Izzudin Zidan, mengatakan pedagang warteg di Jakarta mulai mengalami penyusutan pendapatan lantaran pelanggan mulai mengurangi menu makan.

Zidan, sapaan akrabnya, menilai kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah beberapa pekan terakhir ini sudah beimbas terhadap penurunan omzet.

Dikatakam Zidan, para pelanggan yang biasanya membeli berbagai macam lauk dan sayur, kini membatasi anggaran makan dengan rata-rata maksimal Rp20.000 alias mulai berhemat.

“Pelanggan yang biasa pesan dua menu ayam dan telor, sama sayur, sekarang pelanggan cuma satu menu, paling hanya nasi dan telor (tanpa sayur) doang,” kata Zidan.

Baja juga:  Hadirkan Ekspertis Pada MAMF Korea Kontingen Indonesia Siap Suguhkan Sesuatu Baru di Negeri Ginseng

Lebih parahnya lagi, lanjut Zidan, pelanggan yang makan di warungnya kini menurun hingga 50 persen dari sebelumnya. Termasuk lokasi warteg yang berada di kawasan strategis perkantoran.

“Sudah kemarin terkena WFH, tetiba sekaranh dihantam dolar ikut naik jadi makin nyungsep penghasilan para pedagang warteg,” katanya

Dikatakan Zidan, usaha warteg merupakan jenis usaha yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku. Adanya pelemahan rupiah, lanjut dia, membuat harga berbagai barang berbasis impor ikut terdorong naik dan akhirnya berdampak ke pasar domestik.

“Warteg adalah lini usaha yang sangat sensitif terhadap harga bahan baku. Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga-harga barang berbasis impor dan rantai pasok global, yang kemudian merembet ke pasar domestik,” ujar Zidan, yang juga menjadi Ketua Komunitas Warteg Merah-Putih (Kowarmat).

Baja juga:  Migrant Watch Nilai Pernyataan Menteri Karding Soal Peningkatan Devisa Lewat PMI Bentuk Eksploitasi

Karena itu, dirinya terus memantau perkembangan ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar dolar yang dikhawatirkan akan mengganggu operasional para pedagang warteg.

“Dampaknya sangat signifikan bagi warteg, kami tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan harga bahan baku yang dapat memengaruhi biaya operasional,” ujar Zidan.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan memperkuat perlindungan bagi pelaku usaha mikro agar tetap mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global.

Zidan juga mengimbau para pelaku warteg untuk terus melakukan efisiensi usaha dan menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan agar daya saing usaha tetap terjaga.

“Kami optimistis warteg tetap mampu bertahan karena memiliki basis pelanggan yang kuat dan menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *