V News

Jalan Juanda Harus Kembali untuk Publik, Relokasi Pedagang Pasar Baru Dimulai: Fasilitas Rooftop Jadi Pekerjaan Rumah Pemkot

89
×

Jalan Juanda Harus Kembali untuk Publik, Relokasi Pedagang Pasar Baru Dimulai: Fasilitas Rooftop Jadi Pekerjaan Rumah Pemkot

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Mohammad Yamin perlahan akan kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai ruang publik. Pemerintah Kota Bekasi mulai menata kawasan Pasar Baru Bekasi dengan merelokasi para pedagang kaki lima yang selama ini berjualan di badan jalan ke Rooftop Blok I Pasar Baru Bekasi.

Penataan ini bukan semata memindahkan pedagang dari satu tempat ke tempat lain. Pemkot Bekasi dihadapkan pada dua pekerjaan besar sekaligus, yakni mengembalikan fungsi jalan untuk masyarakat dan memastikan roda perekonomian pedagang tetap berputar di lokasi yang baru.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, proses relokasi yang telah memasuki hari ke-29 menunjukkan perkembangan positif. Dari sekitar 300 pedagang yang sebelumnya berjualan di Jalan Juanda, sebanyak 216 pedagang telah menempati Rooftop Blok I Pasar Baru Bekasi.

“Sisanya sebagian berpindah ke lokasi lain, namun proses penataan terus berjalan,” ujar Tri Adhianto saat meninjau lokasi, Selasa (21/7/2026).

Menurut Tri, keberhasilan relokasi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pedagang, tetapi juga perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Warga diharapkan mulai beradaptasi dengan lokasi baru sehingga aktivitas ekonomi pedagang tetap berjalan.

“Kami berharap masyarakat mulai berbelanja di atas. Dengan begitu kawasan pasar menjadi lebih tertib dan ekonomi para pedagang tetap hidup,” katanya.

Meski demikian, Tri mengakui masih terdapat sejumlah fasilitas yang perlu dilengkapi di area rooftop. Salah satunya adalah pembangunan awning atau penutup atap untuk memberikan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.

Pemkot Bekasi telah meminta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) menyusun rencana pembangunan fasilitas tersebut. Selain melalui APBD, pemerintah juga membuka peluang pendanaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Baja juga:  Mengenal Para Ajudan Pengawal Presiden Prabowo Subianto

“Kalau memungkinkan kami akan mencari dukungan CSR agar prosesnya lebih cepat,” ungkapnya.

Selain penambahan atap, Pemkot Bekasi juga tengah mengkaji pembangunan akses vertikal berupa eskalator atau fasilitas serupa untuk mempermudah pengunjung, terutama lansia dan penyandang disabilitas.

Tidak hanya Rooftop Blok I, Pemkot Bekasi juga mulai menghitung kapasitas Rooftop II untuk menampung pedagang yang masih berjualan di Jalan Mohammad Yamin. Jumlahnya diperkirakan mencapai 500 hingga 600 pedagang.

Jika ditambah dengan pedagang dari Jalan Juanda, maka total sekitar 800 pedagang akan menjadi bagian dari program penataan Pasar Baru Bekasi.

“Tujuannya agar Jalan Juanda dan Mohammad Yamin benar-benar kembali difungsikan untuk masyarakat pengguna jalan,” tegas Tri.

Ia juga menilai relokasi ke dalam area resmi pasar dapat meminimalisasi berbagai pungutan yang selama ini dikeluhkan pedagang ketika berjualan di badan jalan. Pedagang nantinya hanya dikenakan retribusi resmi sehingga biaya operasional menjadi lebih jelas dan terukur.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Bekasi telah memasang sekitar 70 titik lampu penerangan di area rooftop dan memastikan penambahan fasilitas akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran daerah.

Di sisi lain, para pedagang mengaku mendukung program penataan kota yang dilakukan pemerintah. Namun, mereka berharap relokasi tidak berhenti pada pemindahan lokasi semata, melainkan diikuti dengan penyediaan fasilitas yang memadai.

Baja juga:  Kejati Jabar Tetapkan 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Tunjangan Rumah DPRD Kabupaten Bekasi Senilai 20 Milyar

Perwakilan pedagang Pasar Baru Bekasi, Arif, mengatakan akses menuju rooftop masih menjadi tantangan terbesar saat ini, terutama bagi kendaraan pengangkut sayur dan barang dagangan.

“Kami berharap seluruh pedagang bisa segera naik ke lokasi yang disediakan sehingga pelanggan juga ikut terbiasa berbelanja di atas,” katanya.

Arif mengungkapkan, sebelum direlokasi ke rooftop, biaya operasional yang dikeluarkan pedagang bisa mencapai lebih dari Rp100 ribu per hari. Kini, biaya yang harus dibayarkan hanya sekitar Rp10 ribu per lapak setiap hari.

Meski lebih ringan dari sisi pengeluaran, tantangan justru datang dari menurunnya jumlah pembeli. Menurutnya, omzet pedagang masih belum kembali normal karena akses menuju lokasi baru belum sepenuhnya memudahkan masyarakat.

“Kalau saya pribadi, omzet sekarang baru sekitar 80 persen dari kondisi normal. Dulu bisa mencapai sekitar Rp3 juta per hari, sekarang masih terasa penurunannya,” ujarnya.

Ia pun menyambut baik rencana pembangunan eskalator, penambahan atap, hingga perbaikan saluran air yang dinilai akan sangat membantu aktivitas perdagangan di rooftop.

Bagi para pedagang, penataan kota merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Namun, keberhasilan relokasi pada akhirnya akan diukur dari satu hal sederhana, yakni apakah pembeli bersedia ikut berpindah.

Karena itu, pekerjaan rumah Pemkot Bekasi belum selesai. Relokasi pedagang harus dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang layak dan kemudahan akses bagi masyarakat. Sebab, mengembalikan fungsi jalan untuk publik tidak boleh mengorbankan keberlangsungan ekonomi para pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di Pasar Baru Bekasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *