V News

Viral Dugaan Kasus Bullying di Unity School, Begini Kronologinya

262
×

Viral Dugaan Kasus Bullying di Unity School, Begini Kronologinya

Sebarkan artikel ini

Venomena.id – Dugaan kasus bullying di Unity School Galaksi, Bekasi Selatan, sempat menjadi sorotan setelah seorang wali murid melaporkan anaknya diduga mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Persoalan yang awalnya terjadi antarsiswa itu kemudian berkembang hingga masuk ke Dinas Pendidikan dan dibahas dalam audiensi Komisi IV DPRD Kota Bekasi.

Di tengah polemik yang telanjur viral, pihak sekolah justru menyatakan hasil investigasi internal tidak menemukan unsur bullying.

Pengurus Komite Sekolah berinisial N menuturkan, persoalan bermula pada 16 Juli 2026. Saat itu, seorang wali murid menghubungi wali kelas dan menyampaikan bahwa anaknya diduga menjadi korban bullying.

Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, untuk ditindaklanjuti.

“Awalnya tanggal 16 Juli, ibu pelapor menelepon wali kelas dan menyampaikan anaknya dibully. Setelah itu laporan diteruskan kepada kepala sekolah untuk ditindaklanjuti,” ujar N.

Karena laporan disampaikan menjelang akhir pekan, proses penanganan secara internal baru dilanjutkan pada Senin berikutnya. Menurut N, dalam proses tersebut pihak sekolah kemudian melakukan penelusuran untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sekolah melakukan pemeriksaan, termasuk melihat rekaman CCTV, berkomunikasi dengan orang tua siswa yang terlibat, serta memberikan pendampingan kepada kedua anak.

Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar bagi sekolah untuk menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak memenuhi unsur perundungan. N menjelaskan, persoalan yang dilaporkan berkaitan dengan sebuah botol minum milik siswa.

Dari penelusuran CCTV, menurut N, tidak terlihat adanya tindakan siswa lain yang membanting atau sengaja merusak botol minum tersebut.

“Kalau berdasarkan CCTV, botol minum itu berada di tangan anak pelapor ketika berlari. Kemudian anak tersebut jatuh dan botolnya ikut terjatuh. Anak yang disebut melakukan bullying berada di sekitar loker,” jelasnya.

Baja juga:  Peneliti ITS Nilai Podcast Nofel Hanya Makin Menjatuhkan Karir Politiknya, Perlu Kedewasaan Berfikir

N menegaskan, penjelasan tersebut merupakan hasil yang diketahui pihak komite dari proses investigasi sekolah.

Setelah pemeriksaan dilakukan, pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi dan menyampaikan hasil penelusuran. Persoalan sempat dianggap selesai setelah kedua pihak dipertemukan dan dilakukan mediasi.

Namun, polemik tidak berhenti di lingkungan sekolah.

Menurut N, pihak pelapor kemudian menyampaikan bahwa laporan juga telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan. Selanjutnya, pada 30 Juli 2026, persoalan tersebut dibahas dalam audiensi di Komisi IV DPRD Kota Bekasi.

Audiensi tersebut kemudian menjadi perhatian para orang tua siswa setelah hasil atau informasi mengenai pertemuan itu muncul di media sosial.

N mengatakan, orang tua siswa sebenarnya mengetahui adanya persoalan tersebut. Namun, mereka memilih tidak ikut campur karena menganggap masalah tersebut merupakan persoalan pribadi yang dapat diselesaikan antara pihak sekolah dan orang tua.

“Kami sebenarnya tahu ada kasus ini. Tetapi kami pikir biarkan sekolah yang menangani. Namanya juga anak-anak, bisa saja terjadi salah paham,” katanya.

Situasi berubah ketika muncul unggahan dari akun Instagram Humas DPRD Kota Bekasi yang menyinggung persoalan Unity School dan memunculkan narasi mengenai ancaman pencabutan izin sekolah. Menurut N, unggahan tersebut hanya bertahan sekitar dua jam sebelum kemudian dihapus.

Namun, sebelum dihapus, sejumlah orang tua mengaku telah menyimpan tangkapan layar dan merekam unggahan tersebut.

“Baru sekitar dua jam sudah di-take down, tetapi sudah banyak yang screenshot. Akhirnya menyebar,” ujarnya.

Baja juga:  Kasus Dugaan Pemerasan Bos Prodia Meluas, Eks Kanit PPA Polres Jaksel Juga Dipecat

Narasi tersebut membuat sebagian orang tua khawatir karena Unity School memiliki jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Padahal, menurut para orang tua, persoalan yang dipersoalkan hanya berkaitan dengan siswa pada jenjang SD.

Keresahan bahkan sampai dirasakan siswa. N mengatakan, sejumlah anak mulai bertanya kepada orang tuanya mengenai kabar sekolah akan ditutup.

“Anak-anak sekarang sudah tahu media sosial. Mereka membaca bahwa sekolah terancam ditutup. Ada yang bertanya kepada orang tuanya, ‘Memangnya sekolah kita mau ditutup?’,” kata N.

Kondisi tersebut membuat para orang tua merasa persoalan yang semestinya dapat diselesaikan secara internal justru berkembang menjadi isu yang berdampak kepada seluruh warga sekolah.

Sekolah Nyatakan Tak Ada Unsur Bullying

Sebelumnya, Unity School Galaksi melalui keterangan resminya menyatakan telah melakukan investigasi internal melalui TPPK.

Tim tersebut terdiri atas unsur konselor sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan koordinator kesiswaan.

Investigasi dilakukan dengan memeriksa CCTV, berkomunikasi dengan orang tua siswa, serta melakukan pendampingan terhadap kedua anak. Pihak sekolah menyatakan peristiwa terjadi saat siswa bermain sebelum jam pelajaran dimulai dan saat waktu istirahat.

Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, sekolah menyatakan peristiwa itu tidak memenuhi unsur perundungan.

Para orang tua kini meminta seluruh pihak mengedepankan fakta dan hasil investigasi agar persoalan yang menyangkut anak-anak tidak berkembang menjadi stigma terhadap sekolah maupun siswa.

Hingga kini, pihak Unity School tetap berpegang pada hasil investigasi internal bahwa tidak ditemukan unsur bullying dalam peristiwa tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *