Venomena.id – Dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum refleksi bagi sejumlah aktivis 1998.
Berkumpul di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu 31 Oktober 2026 malam, para aktivis yang tergabung dalam Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) menyoroti sejumlah persoalan bangsa yang dinilai masih membutuhkan pembenahan serius, terutama di sektor perekonomian.
Dalam diskusi dan refleksi yang berlangsung santai, kritik terhadap kondisi bangsa mengemuka. Mulai dari meningkatnya beban ekonomi masyarakat, ketidakstabilan harga kebutuhan pokok, persoalan pengangguran, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Bagi para aktivis yang pernah menjadi bagian dari gerakan reformasi 1998, persoalan ekonomi bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Stabilitas ekonomi berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, ketersediaan lapangan kerja, serta kemampuan negara menjaga kesejahteraan rakyat.
Ketua Umum PB PENA 98, Tumpak Sidabutar, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk refleksi terhadap situasi dan kondisi Indonesia saat ini.
“Masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, terutama akibat kenaikan harga kebutuhan, persoalan pengangguran, dan pelemahan nilai tukar rupiah,” jelas Tumpak.
Lebih jauh dikatakan Tumpak, kekhawatiran terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Pengalaman krisis ekonomi 1998 menjadi pengingat bahwa gejolak ekonomi dapat membawa dampak luas apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
“Meski kondisi saat ini tidak serta-merta dapat disamakan dengan situasi 1998, para aktivis menilai pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengendalian inflasi, penguatan rupiah, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan daya beli masyarakat dinilai harus menjadi perhatian serius pemerintahan Prabowo-Gibran,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah mampu menjaga nilai tukar dolar Amerika Serikat agar berada di bawah Rp16.000. Harapan tersebut mencerminkan besarnya perhatian terhadap stabilitas mata uang nasional di tengah berbagai tekanan ekonomi.
Tumpak menegaskan, masyarakat membutuhkan kebijakan yang berdampak nyata, terutama dalam menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau dan membuka kesempatan kerja yang lebih luas.
“Selain menyoroti persoalan ekonomi, para aktivis 98 juga mengingatkan generasi muda agar lebih kritis dalam menyikapi informasi di ruang digital. Masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks yang berpotensi memicu kegaduhan dan memperkeruh situasi,” imbuhnya.
Refleksi PENA 98 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan reformasi belum berhenti pada pergantian kepemimpinan. Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi ujian bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa stabilitas nasional benar-benar berjalan seiring dengan perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Sebab, ukuran keberhasilan pemerintahan pada akhirnya bukan hanya narasi pembangunan, melainkan kemampuan menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat setiap hari.









